askep kdm elimunasi alvi

LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
DENGAN GANGGUAN ELIMINASI ALVI
DI RUANG ARGOPURO (BEDAH)
RSUD. R.A. BASOENI – MOJOKERTO

DI SUSUN OLEH:
KARTIKA
NIM: 02.11.223

PROGRAM DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DIAN HUSADA MOJOKERTO
TAHUN AKADEMIK 2011 – 2012

LAPORAN PENDAHULUAN

1. PENGERTIAN

– Eliminasi alvi adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses yang berasal dari saluran pencernaan melalui anus. ( Tarwoto, 2004, 48)

– Eliminasi alvi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah padat yang berasal dari sistem pencernaan makhluk hidup. ( Wartonah, 2004)

2. KARAKTERISTIK FESES NORMAL DAN ABNORMAL

a) Normal
 Warna : -Bayi : Kecoklatan
-Dewasa : Kekuningan
 Konsistensi : Berbentuk lunak, agak cair / lembek, basah.
 Bentuk : Silinder (bentuk rektum)
 Jumlah : 100 – 400 gr / hari
 Bau : Khar, dipengaruhi oleh makanan yang di makan

b) Abnormal
o Warna :Pekat / putih, hitam, merah, pucat.
o Konsistensi : Keras, kering
o Bentuk : Mengecil, bentuk pensil
o Jumlah : –
o Bau : Tajam, pedas

(Suprianto)

3. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ELIMINASI ALVI

a) Usia
Pada usia bayi kontrol defiksasi belum berkembang, sedangkan pada usia manula kontrol defeksasi menurun.

b) Diet
Makanan berserat akan mempercepat produksi feses, banyaknya makanan yang masuk kedalam tubuh juga mempercepat proses defeksasi.

c) Intake cairan
Intake cairan yang kurang akan menyebabkan feses menjadi keras,disebabkan karena absorpsi cairan meningkat.

d) Aktivitas
Tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma akan sangat membantu proses defekasasi. Gerakan peristaltik akan memudahkan bahan feses bergerak sepanjang kolon.

e) Fisiologis
Keadaan cemas, takut dan marah akan meningkatkan peristaltik sehingga menyebabkan diare.

f) Posisi selama defeksasi
Posisi jongkok merupakan posisi yang normal saat melakukan defeksasi. Toilet modern di rancang untuk memfasilitasi posisi ini, sehingga memungkinkan individu untuk duduk tegak kearah depan, mengeluarkan tekanan intra abdomen dan mengeluarkan kontraksi otot – otot pahanya.

(Wartonah , 2004)

4. MASALAH – MASALAH DALAM ELIMINASI ALVI

a. Diare
Keluarnya feses cair dan meningkatkan frekuensi buang air besar akibat cepatnya anyme melewati usus besar, sehingga usus besar tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menyerap air.

b. Konstipasi
Gangguan eliminasi alvi yang di akibatkan adanya feses yang kering dan keras melalui usus besar.

c. Kembung (akumulasi gas)
Penyebab umum abdomen menjadi penuh, terasa nyeri dan kram.

(Suprianto, 2005)

5. PATOFISIOLOGI

Penjelasan Patofisiologi

– Konstipasi yaitu gangguan eliminasi alvi yang di sebabkan oleh penumpukan feses di dalam kolon atau usus besar.
– Konstipasi mempunyai 2 reflek yang dapat mempengaruhi proses pengeluaran feses yaitu, reflekintrinsik dan reflek parasimpatis.
 Reflek intrinsic yaitu gelombang yang menekan feses kearah anus.
 Reflek parasimpatis yaitu, peningkatan gelombang peristaltik yang melemaskan spingter anus.
– Pada saat dua reflek tersebut dilakukan, aka terjadilah proses pengeluaran
feses, dan apabila kedua reflek tersebut di abaikan maka akan terjadi
pengersan feses sehingga terjadi konstipasi.
– Dan beberapa penyebab yang menyebabkan reflek tersebut di abaikan, – yaitu karena menurunya aktifitas fisik, menurunya mobilitas internal, dan penurunan atau pembatasan diet.

(Hariyanto, 2005)

6. TANDA DAN GEJALA

1. Gelisah
2. Rewel
3. Nafsu makan menurun
4. Tinja padat, keras, kering
5. Volume darah akan berkurang sehingga nadi lebih cepat dan kecil
6. TD menurun, dan kesadaran juga menurun.

7. PENATALAKSANAAN DAN TERAPI

Pengambilan cairan dan elektrolit yang hilang (rehidrasi). Cairan yang dapat diberikan adalah : Ringer Laktat (RL), dan larutan NaCl 0,9 % : Natrium Bikarabonat = 2 : 1, dengan tambahan KCl 3 X 1 gram secara oral.
Setelah diagnosis ditegakkan, maka rehidrasi dapat dilakukan menurut penilaian keadaan dehidrasi :
Pada keadaan syokk atau pre syok cairan diberikan dengan memakai rumus : Skor / 15 X B X 10 % X 1 liter
Jumlah cairan ini diberikan dalam waktu 2 jam kemudian diikuti dengan pemberian sebanyak pengeluaran selama 2 jam sebelumnya. Bila setelah 3 jam syok di atasi, maka berikan cairan elektrolit peroral. Bila masih keadaan syok / presyok maka skema di atas di ulang.

8. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
– Identitas Pasien
– Keluhan Utama
– Riwayat Kesehatan Sekarang
– Riwayat Kesehatan Dahulu
– Riwayat Penyakit Keluarga
– Pola Kebiasaan
1. Pola Nutrisi
2. Pola Eliminasi
3. Pola Personal Hygiene
4. Pola Istirahat
5. Pola Aktivitas
– Data Obyektif

– Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
Inspeksi: Simetris, tidak terdapat ketombe, penyebaran rambut merata,
Palpasi: tidak terdapat benjolan dan bekas luka.
b. Mata
Inspeksi: Simetris,konjungtiva berwarna merah muda, sklera berwarna putih.
c. Hidung
Inspeksi: simetris, tidak terdapat labio palatoskisis, tidak terdapat tanda infeksi,
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan.
d. Telinga
Inspeksi: Daun telinga simetris, tidak terdapat serumen (bersih), tidak terdapat pembesaran kelenjar mastoid.
e. Mulut
Inspeksi: Tidak sariawan, tidak terdapat labioskisis, warna bibir merah muda.
f. Leher
Inspeksi: Tidak ada benjolan.
Palpasi: Kelenjar tyroid: tidak ada nyeri tekan dan pembesaran.
Vena jugularis : tidak ada pembendungan.
g. Pemeriksaan Dada
Inspeksi : Bentuk dada simetris, irama pernapasan teratur.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan,getaran suara antara kiri dan kanan sama.
Auskultasi : tidak ada suara tambahan ronchi / wheezing.

h. Abdomen
Inspeksi : bentuk abdomen simetris,tidak ada lika bekas operasi.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan pada semua abdomen.
Perkusi : tympani
Auskultasi : –
i. Ektrimitas atas
Inspeksi : simetris, tidak terdapat odem, jeri- jari lengkap dapat di gerkkan.
Palpasi ; tidak terdapat nyeri tekan dan tidak terdapat krepitasi.
j. Ekstrimitas bawah
Inspeksi : simetris,tidak ada odem, kedua kaki dapat di gerakkan, jari – jari lengkap.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan.

– Data Penunjang
a. Data Laboratorium
b. Terapi Medis

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan eliminasi alvi yang berhubungan dengan konstipasi pada
kolon
2. Gangguan eliminasi alvi yang berhubungan dengan dehidrasi
3. Gangguan eliminasi alvi yang berhubungan dengan mobilitas intestinal.

C. Analisa Data

– Data
– Masalah
– Antisipasi Maslah Potensial
– Identifikasi Kebutuhan Segera

D. Intervensi

1. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam diharapkan pasien bisa buang air besar dengan lancar.

2. Kriteria Hasil

– Keadaan umum membaik
– Pasien bisa buang air besar dengan lancar
– Pasien bisa makan dengan teratur
– Pasien merasa nyaman.

7. Dx: Gangguan Rasa Cemas.

INTERVENSI RASIONAL
1.) Lakukan pendekatan dengan pasien dan keluarga pasien .

2.) Memberikan cairan adekuat

3.) Obsevasi TTV

4.) Kolaborasi dengan tim medis

5.) Memberikan makanan tinggi serat. – Menciptakan hubungan saling percaya antara pasien dan perawat.
– Dengan pemberian cairan adekuat, dapat melunakkan feses sehingga proses BAB lebih mudah dan lancar.

– Untuk mengetahui kondisi pasien dan mengetahui perkembangan pasien serta menentukan tindakan selanjutnya.

– Memberi terapi secara tepat, yang dihrapkan dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.

– Dengan makan makanan yang berserat tinggi bisa membantu menurunkan konstipasi, sehingga pasien bisa melakukan BAB dengan lamcar.

8. IMPLEMENTASI

Pemberian asuhan keperawatan tanpa pelaksanaan dari serangkaian kegiatan sistematis berdasrakan perencanaan untuk mencapai hasil yang maksimal.

9. EVALUASI

Menilai tercapai atau tidaknya tujuan, dilihat dari perilaku pasien dan keluarga serta keadaan fisik, sebagai berikut :

a. Tujuan tercapai jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan standrat
yang telah ditetapkan.
b. Tujuan tercapai sebagian jika klien menunjukkan perubahan dari kriteria dan standar yang di tetapkan.
c. Tujuan tidak tercapai jika klien tidak menunjukkan perubahan kemajuan sama dan bahkan timbul masalah baru, kolaborasi dengan dokter yang merawat.
DAFTAR PUSTAKA

 Hidayat, A. Aziz Alimul . 2005 . Kebutuhan Dasar Manusia . Jakarta : EGC.
 Dongoes, Marydin E. 2000 . Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
 Carpenito , Lynda Juall . 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan . Jakarta: EGC.
 Wartonah dan Tarwotoh . 2004. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan . Salemba Medika : Jakarta.
 Perry, Potter . 2005 . Fundamental Keperawatan . EGC : Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PADA Tn.” S”
DENGAN GANGGUAN ELIMINASI ALVI
DI RUANG ARGOPURO (BEDAH)
RSUD. R.A. BASOENI – MOJOKERTO

DI SUSUN OLEH:

KARTIKA
NIM: 02.11.223

PROGRAM DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DIAN HUSADA MOJOKERTO
TAHUN AKADEMIK 2011 – 2012
ASUHAN KEPERAWATAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PADA Nn. ” E”
DENGAN GANGGUAN RASA CEMAS DI RUANG ARGOPURO
RSUD. R.A. BASOENI – MOJOKERTO

1. PENGKAJIAN

No. Registrasi : 050825
Ruang : Argopuro
Tanggal / Jam MRS : 11 – 03 – 2012 / 12.45 WIB
Tanggal / Jam Pengkajian : 14 – 03 – 2012 / 15.00 WIB
Diagnosa Medis : COS + Open Fraktur Cruris Sinistra Multiple
Ekskriasi

 Identitas
a. Biodata

Nama : Tn. “S”
Jenis Kelamin : Laki – laki
Umur : 32 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl. Merpati Ds. Pagen Tanjung
Status : Sudah kawin

 Keluhan Utama

Pasien mengatakan , “saya susah buang air besar sejak setelah di operasi.”

 Riwayat Kesehatan Sekarang

Pasien mengatakan, ” Saya merasa susah buang air besar setelah saya melakukan operasi pada kaki saya, yang pada waktu itu operasinya di lakukan pada tanggal 13 – 03 – 2012 pukul 10.05 WIB.Sebelum operasi saya bisa buang air besar dengan lancar tetapi setelah saya operasi saya merasa susah buang air besar.”

 Riwayat Kesehatan Dahulu

Pasien mengatakan, ” Sebelum saya masuk rumah sakit dan sebelum saya di operasi, proses buang air besar saya lancar dan tidak susah seperti sekarang ini.”

 Riwayat Psikososial

o Dirumah hubungan antara pasien dengan keluarga dan tetangga pasien sangat harmonis dan rukun. Dan tidak pernah terjadi perselisihan antara pasien dengan keluarga maupun tetangga pasien.
o Saat masuk rumah sakit, hubungan pasien dengan pasien yang lainjuga terjalin dengan baik.

 Pola Kebiasaan

Pola Kebiasaan Sebelum Sakit Saat Sakit
– Nutrisi
1. Makan

2. Minum
– 3X sehari, porsi sedangdengan lauk sayur

– 7 – 8 gelas /hari ± 1500 – 2000 cc

– 2X sehari,makan bubur dan buah pisang, setiap makan habis .
– 7 – 8 gelas / hari
± 1500 – 2000 cc.

– Eliminasi
1. BAB

2. BAK
– 2X / hari
– Konsistensi lunak

– 5 – 6 X / hari
– Warna kuning, bau khas.
– Sebelum operasi BAB 1 X / hari pagi saja,Setelah operasi susah BAB, jadi 1 hari tidak BAB.
– Konsistensi keras, warna coklat.
– 3 – 4 X / hari, dibantu keluarga.
– Warna kuning,bau khas.
-Personal Hygiene
1. Mandi

2.Gosok gigi

3. Keramas

4. Ganti pakaian

– Di kamar mandi
– 2X / hari
– Pakai air dingin
– Mandi sendiri
– Memakai sabun

– Dikamar mandi
– 2X / hari
– Pakai air dingin

– Dikamar mandi
– 2X / hari

– Dikamar
– 2X / hari

– Di tempat tidur
– Di seka 2X / hari
– Pakai air dingin
– Tidak memakai sabun

– Di tempa tidur
– 2X / hari
– Pakai air dingin

– Tidak keramas

– Di atas tempat tidur
– 1X / hari
– Pola Istirahat

Tidur

– Siang 2 – 3 jam
– Malam 8 – 9 jam
– nyenyak

– Siang 1 – 2 jam
– Malam 7 – 8 jam
– Tidur kurang nyenyak karena memikirkan penyakitnya
– Pola Aktivitas
– Segala kebutuhan dan kegiatan sehari – hari bisa dilakukan sendiri.
– Hanya bisa berbaring di tempat tidur.
– Segala kebuthan di bantu oleh keluarga.

2. Data Objektif

a. Pemeriksaan Umum

 K / U : Cukup
 Kesadaran : Composmentis
 GCS : 4 – 5 – 6
 Tekanan Darah (TD) : 110/ 70 mmHg
 Nadi : 88 X / menit
 Respirasi Rate (RR) : 22X / menit
 Suhu : 37,5˚ C

b. Pemeriksaan Fisik

 Kepala
Inspeksi : Simetris, tidak terdapat bekas luka, penyebaran rambut rata.
Palpasi : Tidak terdapat benjolan dan bekas luka.

 Mata
Inspeksi : Simetris, raflek pupil normal, bersih, tidak anemis, sklera tidak ikterik

 Hidung
Inspeksi: simetris, tidak terdapat labio palatoskisis, tidak terdapat tanda infeksi.
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan

 Telinga
Inspeksi: Daun telinga simetris, tidak terdapat serumen (bersih), tidak terdapat pembesaran kelenjar mastoid.

 Mulut
Inspeksi : Tidak sariawan, warna bibir merah muda, tidak terdapat labioskisis, lidah berwarna merah muda, gigi tidak berlubang, jumlah gigi lengkap.

 Leher
Inspeksi: Tidak ada benjolan.
Palpasi: Kelenjar tyroid: tidak ada nyeri tekan dan pembesaran.
Vena jugularis : tidak ada pembendungan.

 Pemeriksaan Dada
Inspeksi : Bentuk dada simetris, irama pernapasan teratur.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan,getaran suara antara kiri dan kanan sama.
Auskultasi : tidak ada suara tambahan ronchi / wheezing.

 Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : bentuk abdomen simetris,tidak ada lika bekas operasi.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan pada semua abdomen.
Perkusi : tympani
Auskultasi : Bising usus 12 X/ menit, peristaltik melemah 15 X / menit.

 Ektrimitas Atas
Inspeksi : Simetris, tidak ada odem, terpasang infus RL pada tangan kiri, jari – jari tangan lengkap.
Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan dan krepitasi
.
 Ekstrimitas Bawah
Inspeksi : Tidak simetris,terdapat odem, warna biru kehitaman, jari – jari lengkap.
Palpasi : Terdapat nyeri tekan dn teraba dingin.

3. Data Penunjang

 Diagnosa Medis : COS + Open Fraktur Cruris Sinistra Multiple
Ekskriasi
 Tanggal : 28 – 02 – 2012

– Cek : 1. Cruris : Open fraktur cruris sinistra.
2. Foto Torax : – Paru – paru normal
– Tidak dapat penyempitan jantung

– Data Laboratorium

Nama Pasien : Tn. “S” Tanggal: 11 – 03 – 2012 Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

1. Tes Fungsi Hati Angka Normal
o Bilirubin direct ……….. mg/dl 0,00 – 0,02
Total ……….. mg/dl < 1,00
o SGPOT ..58,2.. U/I L : 25 P : 21
o SGPT ..35,5.. U/I L : 29 P : 22
o Total Protein ……….. g/dl 6 – 8
o Albumin ……….. g/dl 3,4 – 4,2
o Globumin ……….. g/dl 2,2 – 3,6
o Gamma GT ……….. U/I 5 – 38

2. Tes Fungsi Ginjal
o UREA ….28,7. mg/dl 10 – 50 mg/dl
o KREATIN Serum ….0.90. mg/dl L : 0,6 – 1,5 P : 0,5 – 12
o Asam Lirat ……….. mg/dl L : 3,4 – 7,7 P : 2,7 – 5,7
o Klierns Kreatin ……….. mg/dl 100 – 130 ml/liter

3. Tes Diabetes
o Gula darah Puasa ……….. mg/dl 80 – 110 mg/dl
o Gula Darah 2 jam pp …… mg/dl 110 – 140
o Gula Darah ACOCC .105,0 mg/dl 140
o HB AC ………… mg/dl 4 – 6

4. Tes Lemak
o Total Kolesterol ………… mg/dl 150 – 250
o HDL ………… mg/dl 45 – 65
o LDL ………… mg/dl < 150
o Tigliserida ………… mg/dl < 200

5. Elektrolit
o Na ………… mg/dl 136 – 144
o K ………… mg/dl 3,8 – 5,5
o G ………… mg/dl 97 – 113
o Ca ………… mg/dl 8,1 – 10,4

– Hasil Laboratorium

Nama Pasien : Tn. "S" Tanggal: 11 – 03 – 2012 Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

o WBC : 27,1 X 103 / UL H
o Lymph # : 4,2 X 103 / UL
o Mid # : 1,9 X 103 /UL
o Gran # : 23,8 X 103 /UL H
o Lymph % : 6,4 % L
o Mid % : 7,1 %
o Gran % : 84,3 %
o HGB : 13,3 g/dl H
o RBC : 4,04 X 103 /UL
o HCT : 39,1 %
o MCV : 90,9 FL
o MCH : 32,9 Pg H
o MCHC : 34,0 g/dl
o RDW – CV : 13,5 %
o RDW – SD : 49,7 FL
o PLT : 147 x 103 /UL H
o MPV : 7,7 FL
o PDW : 15,8
o PCT : 0,113 %
 Terapi Medis :
– Infus RL, 20 tpm
– Injeksi ketorolac 3 X 30 mg
– Injeksi Cefotaxime 3 X 1 ampul
– P/R stolax supp II
– Injeksi nevaldo 3X 1 ampul
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Gangguan buang air besar ( BAB / Eliminasi alvi) berhubungan dengan konstipasi pada kolon.

III. ANALISA DATA

Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

1. Data

Ds : Pasien mengatakan, " saya susah buang air besar sejak setelah di operasi."

Do : K/U : Cukup
Kesadaran : Composmentis , GCS : 4 – 5 – 6
TTV : TD : 110/70 mmHg
N : 88 X / menit
S : 37,5˚ C
RR : 22 X / menit
– Terpasang infus RL, 20 tpm, di tangan sebelah kiri.
– Pasien belum bisa BAB selama 2 hari
– Nafsu makan menurun
– Teraba massa di abdomen
– Peristaltik melemah : 15 X / menit
– Bising usus : 12 X / menit
– Pasien bedtress

2. Masalah
– Gangguan eliminasi alvi

3. Antisipasi Masalah Potensial
( – )

4. Identifikasi Kebutuhan Segera
( – )

IV. INTERVENSI
Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

 Dx Keperawatan :
Gangguan buang air besar ( BAB / Eliminasi alvi) berhubungan dengan konstipasi pada kolon.

 Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam, diharapkan pasien bisa buang air besar dengan lancar.

 Kriteria Hasil

o Keadaan umum membaik
o Pasien bisa buang air besar dengan lancar
o Pasien bisa makan dengan teratur
o Pasien merasa nyaman.

 Intervensi
1.) Lakukan pendekatan terapeutik dengan pasien dan keluarga pasien.
R/ : Menciptakan hubungan saling percaya antara pasien dan perawat.
2.). Memberikan cairan adekuat
R/ : Dengan pemberian cairan adekuat, dapat melunakkan feses
sehingga proses BAB lebih mudah dan lancar.
3.) Obsevasi TTV
R/ : Untuk mengetahui kondisi dan perkembangan pasien, serta untuk
menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya
4.) Kolaborasi dengan tim medis.
R/ : Memberi terapi secara tepat, yan diharapkan dapat mempercepat
proses penyembuhan.
5.) Memberikan makanan tinggi serat.
R/ : Dengan makan makanan yang berserat tinggi bisa membantu menurunkan konstipasi, sehingga pasien bisa melakukan BAB dengan lamcar.

V. IMPLEMENTASI

Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro

 Dx :
Gangguan buang air besar ( BAB / Eliminasi alvi) berhubungan dengan konstipasi pada kolon.

1.) Melakukan pendekatan dengan pasien dan keluarga pasien.
• Dengan cara memberi salam,menyapa pasien dan keluarga pasien serta menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan
.
2.) Memberikan cairan adekuat
• Dengan cara memberikan cairan selama masih terjadi konstipasi pada kolon, dengan cairan infus RL, 500 cc.

3.) Observasi TTV
• TD : 110/80 mmHg
• N : 89x / menit
• S : 37 ˚C
• RR : 21x / menit

4.) Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat dan terapi.
• Infus RL, 20 tpm
• Injeksi ketorolac 3 x 30 mg
• Injeksi cefotaxime 3 x 1 ampul
• P/R stolax supp II
• Injeksi nevaldo 3 x 1 ampul.

5.) Memberikan makanan yang tinggi serat
• Dengan cara memberikan makanan yang mnegandung serat tinggi,misalnya buah – buahan, seperti : pepaya, pisang, jeruk, dll. Sayuran, seperti : bayam, kangkung, dll, dan perbanyak minum air putih.

VI. EVALUASI

Tanggal / Jam : 14 – 03 – 2012 / 16.00 WIB
Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

• S : Pasien mengetakan masih belum bisah buang air besar (BAB).
• O :
TD : 110/80 mmHg
N : 87 X / menit
S : 37˚C
RR : 22 X / menit

– K/U cukup
– Pasien masih belum bisa BAB
– Peristaltik masih lemah : 14 x / menit
– Bising usus masih 12 x / menit
– Masih teraba massa pada abdomen
– Nafsu makan pasien masih berkurang
– Pasien masih bedtress.

• A : Masalah belum teratasi.
• P : Intervensi dilanjutkan no: 4 dan 5

– Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat dan terapi :
o Infus RL, 20 tpm
o Injeksi ketorolac, 3 X 30 mg
o Injeksi cefotaxime, 3 x 1 ampul
o Injeksi nevaldo 3 x 1 ampul.
– Memberikan makanan tinggi serat.
o Memberikan porsi makanan yang banyak mengandung serat, yaitu buah – buahan dan lauk yang disertai kuah dan sayuran.

VII. DATA PERKEMBANGAN

 Tanggal / Jam : 14 – 03 – 2012 / 20.30 WIB
Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

 Dx :
Gangguan buang air besar ( BAB / Eliminasi alvi) berhubungan dengan konstipasi pada kolon.
• S : Pasien mengatakan sudah bisa BAB akan tetapi masih belum terlalu besar.

• O :
K/U : Lemah
TD : 110/70 mmHg
N : 92 x / menit
S : 37 ˚C
RR : 22 X / menit

– Pasien sudah bisa BAB.
– Peristaltik sudah mulai meningkat 20 x / menit
– Bising usus sudah mulai normal 22 x / menit
– Nafsu makan pasien sudah mulai bertambah
– Massa pada abdomen sudah mulai berkurang
– Pasien sudah mulai bisa duduk.

• A : Masalah tertasi sebagian
• P : Intervensi dilanjutkan, no: 3 dan 4
– Mengobsevasi TTV.
– Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi.

 Tanggal / Jam : 15 – 03 – 2012 / 09.00 WIB
Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

 Dx :
Gangguan buang air besar ( BAB / Eliminasi alvi) berhubungan dengan konstipasi pada kolon.

• S : Pasien mengatakan sudah bisa BAB secara rutin dan sudah lancar.
• O :
K/U : Cukup
TD : 120/70 mmHg
N : 95 X / menit
S : 37,5 ˚C
RR : 22 X / menit

– Pasien sudah bisa BAB dengan lancar
– Peristaltik normal 25 x / menit
– Nafsu makan pasien sudah bertambah dan makan tepat waktu
– Bising usus nrmal : 22 x / menit
– Massa abdomen sudah tidak teraba
– Pasien sudah bisa duduk dan tidak bedtress saja.

• A : Masalah tertasi.
• P : Intervensi di hentikan
– Pasien sudah bisa BAB dengan lancar dan sudah merasa nyaman.

 Healty Care

o Anjurkan pasien untuk sering mengkonsumsi buah – buahan
o Anjurkan pasien untuk istirahat cukup
o Anjurkan pasien untuk banyak minum air putih
o Anjurkan pasien untuk teratur menjalankan cek up / kontrol.

askep kdm berjudul mobilitas

LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PADA NY. “T”
DENGAN GANGGUAN MOBILITAS YANG BERHUBUNGAN DENGAN
CLOSE FRAKTUR ANTE BRACH SINISTRA
DI RUANG IGD – RSUD. R.A. BASOENI
MOJOKERTO

DI SUSUN OLEH:

KARTIKA
NIM: 02.11.223

PROGRAM DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DIAN HUSADA MOJOKERTO
TAHUN AKADEMIK 2011 – 2012

LAPORAN PENDAHULUAN

1. PENGERTIAN

– Mobilitas merupakan suatu kemampuan untuk bergerak secara bebas,mudah dan teratur, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktifitas guna untuk mempertahankan kesehatan. ( A. Aziz Alimur, 2005)

– Mobilitas fisik yaitu keadaan keika tseseorang mengalami atau bahkan beresiko mengalami keterbatasan fisik dan bukan merupakan immobile.
( Doenges, M.E, 2000)

– Jenis Mobilitas
1. Mobilitas Penuh

Merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas.

2. Mobilitas Sebagian

Merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan adanya suatu batasan dan tidak mampu bergerak secara bebas yang dikarenakan oleh adanya gangguan syaraf motorik dan sensorik pada area tubuh.

(A.Aziz Alimur, 2005)

2. ETIOLOGI

– Hambatan mobilitas fisik menggambarkan seseorang dengan keterbatasan kekuatan otot.

– Kekengganan untuk berusaha bergerak juga menjadi salah satu penyebab gangguan mobilitas.

– Kerusakan koordinasi yang mnyebabkan keterbatasan rantang gerak.

(A.Aziz Alimur, 2005)

3. PATOFISIOLOGI

– Berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan sekunder akibat gangguan neuromukular.

Truma jaringan Kelemhan otot

Tekanan Keletihan

Ketertabatasan aktifitas Gangguan pemenuhan nutrisi

Nyeri Fraktur

Cemas Ruang gerak terbatas

Gangguan mobilitas fisik Keterbatasan fisik
(Doenges, M.E, 2000)

4. TANDA DAN GEJALA

– Nyeri bila dilakukan pergerakan
– Adanya kelemahan otot
– Lemah
– Intergritas kulit
– Atropi pada psikomotorik
– Keletihan
– Cemas dan gelisah

5. PENATALAKSANAAN

a. Body Mekanik
Penggunaan organ secara efisien dan efektif sesuai dengan fungsinya.
Meliputi:

– Body Alighment (postur)
Postur yang baik yaitu menggunakan otot dan rangka secra benar,misalnya padaposisi duduk,berdiri dan lain-lain.

– Keseimbangan
Keseimbangan keadaan postur tubuh merupakan kesesuaian antara garis sumbu dengan sentralnya (gravitasi).

– Koordinasi Pergerakan Tubuh
Kemampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangan seperti mengangkat benda.

b. Tindakan yang Berhubungan dengan Mobilitas dan Ambulasi

– Membantu klian untuk latihan ambulasi
– Membantu merubah posisi
– Memindah klien dan membantu untuk duduk
– Melatih ROM exercise
– Membantu klie turun dari tempat tidur dan berdiri.

c. Mencapai Kemandirian Penuhdalam Aktivitas Perawatan Diri.

6. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

– Identitas Pasien
– Keluhan Utama
– Riwayat Kesehatan Sekarang
– Riwayat Kesehatan Dahulu
– Riwayat Penyakit Keluarga
– Pola Kebiasaan
1. Pola Nutrisi
2. Pola Eliminasi
3. Pola Personal Hygiene
4. Pola Istirahat
5. Pola Aktivitas
– Data Obyektif
– Pemeriksaan Fisik Head Totoe
a. Kepala
Inspeksi: Simetris, tidak terdapat ketombe, penyebaran rambut merata,
Palpasi: tidak terdapat benjolan dan bekas luka.
b. Mata
Inspeksi: Simetris,konjungtiva berwarna merah muda, sklera berwarna putih.
c. Hidung
Inspeksi: simetris, tidak terdapat labio palatoskisis, tidak terdapat tanda infeksi,
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan.
d. Telinga
Inspeksi: Daun telinga simetris, tidak terdapat serumen (bersih), tidak terdapat pembesaran kelenjar mastoid.
e. Mulut
Inspeksi: Tidak sariawan, tidak terdapat labioskisis, warna bibir merah muda.
f. Leher
Inspeksi: Tidak ada benjolan.
Palpasi: Kelenjar tyroid: tidak ada nyeri tekan dan pembesaran.
Vena jugularis : tidak ada pembendungan.
g. Pemeriksaan Dada
Inspeksi : Bentuk dada simetris, irama pernapasan teratur.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan,getaran suara antara kiri dan kanan sama.
Auskultasi : tidak ada suara tambahan ronchi / wheezing.
h. Abdomen
Inspeksi : bentuk abdomen simetris,tidak ada lika bekas operasi.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan pada semua abdomen.
Perkusi : tympani
Auskultasi : –
i. Ektrimitas atas
Inspeksi : simetris, tidak terdapat odem, jeri- jari lengkap dapat di gerkkan.
Palpasi ; tidak terdapat nyeri tekan dan tidak terdapat krepitasi.
j. Ekstrimitas bawah
Inspeksi : simetris,tidak ada odem, kedua kaki dapat di gerakkan, jari – jari lengkap.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan.

– Data Penunjang
a. Data Laboratorium
b. Terapi Medis

B. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan post SC
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan patah tulang.

C. Analisa Data

– Data
– Masalah
– Antisipasi Maslah Potensial
– Identifikasi Kebutuhan Segera

D. Intervensi
1. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 60 menit di harapkan pasien dapat menejukkan peningkatan mobilitas.

2. Kriteria Hasil
– Adanya peningkatan mobilitas
– Aadanya peningktan kekuatan otot
– Pasien tidak lemah.
7. Dx: Gangguan Mobilitas Fisisk Berhubungan dengan Patah Tulang.

INTERVENSI RASIONAL
1.) Lakukan pendekatan dengan pasien dan keluarga pasien .

2.) Bantu pasien latihan gerak aktif

3.) Obsevasi TTV

4.) Kolaborasi dengan tim medis

5.) Kolaborasi dengan fisioterapidalam program latihan. – Menciptakan hubungan saling percaya antara pasien dan perawat.

– Mempertahankan kekuatan otot dan mobilisasi.

– Untuk mengetahui kondisi pasien dan mengetahui perkembangan pasien serta menentukan tindakan selanjutnya.

– Memberi terapi secara tepat, yang dihrapkan dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.

– Memberi terapi dan meningkatkan kerjasama tim damn perawat.

8. IMPLEMENTASI

Pemberian asuhan keperawatan tanpa pelaksanaan dari serangkaian kegiatan sistematis berdasrakan perencanaan untuk mencapai hasil yang maksimal.

9. EVALUASI

Menilai tercapai atau tidaknya tujuan, dilihat dari perilaku pasien dan keluarga serta keadaan fisik, sebagai berikut :

a. Tujuan tercapai jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan standra yang telah ditetapkan.
b. Tujuan tercapai sebagian jika klien menunjukkan perubahan dari kriteria dan standar yang di tetapkan.
c. Tujuan tidak tercapai jika klien tidak menunjukkan perubahan kemajuan sama dan bahkan timbul masalah baru, kolaborasi dengan dokter yang merawat.

DAFTAR PUSTAKA

– Hidayat, A. Aziz Alimul, 2005. Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: EGC.
– Doenges, M.E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan . Jakarta: EGC

ASUHAN KEPERAWATAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PADA NY.”T”
DENGAN GANGGUAN MOBILITAS YANG BERHUBUNGAN DENGAN
CLOSE FRAKTUR ANTE BRACHI SISNISTRA
DI RUANG IGD – RSUD. R.A. BASOENI
MOJOKERTO

DI SUSUN OLEH:

KARTIKA
NIM: 02.11.223

PROGRAM DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DIAN HUSADA MOJOKERTO
TAHUN AKADEMIK 2011 – 2012
ASUHAN KEPERAWATAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PADA NY.”T”
DENGAN GANGGUAN MOBILITAS YANG BERHUBUNGAN DENGAN
CLOSE FRAKTUR ANTE BRACHI SISNISTRA
DI RUANG IGD – RSUD. R.A. BASOENI
MOJOKERTO

1. PENGKAJIAN

No. Registrasi : 049438
Ruang : IGD
Tanggal / Jam MRS : 09 – Maret – 2012 / 09.30 WIB
Tanggal / Jam Pengkajian : 09 – Maret – 2012 / 09.30 WIB
Diagnosa Medis : Close Fraktur Osteo Radius Sinistra1/3 Distal

 Identitas
a. Biodata

Nama : Ny.”T”
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 70 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Kemlagi – Gedeg – Mojokerto

b. Penangggung Jawab

Nama : Ny. “I”
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 42 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Hubungan dengan Pasien : Anak Pasien
Alamat : Kemlagi – Gedeg – Mojokerto

 Keluhan Utama

Keluarga pasien mengatakan, bahwa ibunya mengeluh kesakitn pada tangan sebelah kiri sehingga tidak bisa di gerakkan.

 Riwayat Kesehatan Sekarang

Setelah mengalami kecelakaan (jatuh sendiri), pasien sudah tidak dapat menggerakkan tangannya yang sebelah kiri.

 Riwayat Kesehatan Dahulu

Keluarga pasien mengatakan, bahwa pasien tidak pernah menderita penyakit apapun, dan tidak pernah jatuh seperti sekarang ini.
Selain itu pasien juga tidak mempunyai penyakit menular atau menurun.

 Riwayat Kesehatan Keluarga

Keluarga pasien mengatakan, keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit menurun, sperti diabetes, paru – paru, hipertensi, dll.
Keluarga pasien juga tidak mempunyai riwayat penyakit menular seperti, HIV, hepatitis, dll.

 Pola Kebiasaan

Pola Kebiasaan Sebelum Sakit Saat Sakit
– Nutrisi
1. Makan

2. Minum
– 3X sehari, porsi sedangdengan lauk sayur
– 7 – 8 gelas /hari ± 1500 – 2000 cc

– 2X sehari, setiap makan habis
± 4 – 6 sendok.
– 7 – 8 gelas / hari
± 1500 – 2000 cc.

– Eliminasi
1. BAB

2. BAK
– 2X / hari
– Konsistensi lunak

– 5 – 6 X / hari
– Warna kuning, bau khas.
– 2X sehari,dibantu keluarga.
– Konsistensi lunak
– 3 – 4 X / hari, dibantu keluarga.
– Warna kuning,bau khas.
-Personal Hygiene
1. Mandi

2.Gosok gigi

3. Keramas

4. Ganti pakaian

– Di kamar mandi
– 2X / hari
– Pakai air dingin
– Mandi sendiri
– Memakai sabun

– Dikamar mandi
– 2X / hari
– Pakai air dingin

– Dikamar mandi
– 2X / hari

– Dikamar
– 2X / hari

– Di tempat tidur
– Di seka 2X / hari
– Pakai air dingin
– Tidak memakai sabun

– Di tempa tidur
– 2X / hari
– Pakai air dingin

– Tidak keramas

– Di atas tempat tidur
– 1X / hari
– Pola Istirahat

Tidur

– Siang 2 – 3 jam
– Malam 8 – 9 jam
– Uhan dan kegiatan nyenyak

– Siang 2 – 3 jam
– Malam 7 – 8 jam
– Tidur nyenyak
– Pola Aktivitas
– Segala kebutuhan dan kegiatan sehari – hari bisa dilakukan sendiri.
– Hanya bisa berbaring di tempat tidur.
– Segala kebuthan di bantu oleh keluarga.

2. Data Objektif

a. Pemeriksaan Umum

 K / U : Cukup
 Kesadaran : Composmentis
 GCS : 4 – 5 – 6
 Tekanan Darah (TD) : 160/ 90 mmHg
 Nadi : 81X / menit
 Respirasi Rate (RR) : 30X / menit
 Suhu : 36˚ C

b. Pemeriksaan Fisik

 Kepala
Inspeksi : Simetris, tidak terdapat bekas luka, penyebaran rambut rata.
Palpasi : Tidak terdapat benjolan dan bekas luka.

 Mata
Inspeksi : Simetris, raflek pupil normal, bersih, tidak anemis, sklera tidak ikterik

 Hidung
Inspeksi: simetris, tidak terdapat labio palatoskisis, tidak terdapat tanda infeksi.
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan

 Telinga
Inspeksi: Daun telinga simetris, tidak terdapat serumen (bersih), tidak terdapat pembesaran kelenjar mastoid.

 Mulut
Inspeksi : Tidak sariawan, warna bibir merah muda, tidak terdapat labioskisis, lidah berwarna merah muda, gigi berlubang dan tidak lengkap atau kurang dari 28.

 Leher
Inspeksi: Tidak ada benjolan.
Palpasi: Kelenjar tyroid: tidak ada nyeri tekan dan pembesaran.
Vena jugularis : tidak ada pembendungan.

 Pemeriksaan Dada
Inspeksi : Bentuk dada simetris, irama pernapasan teratur.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan,getaran suara antara kiri dan kanan sama.
Auskultasi : tidak ada suara tambahan ronchi / wheezing.

 Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : bentuk abdomen simetris,tidak ada lika bekas operasi.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan pada semua abdomen.
Perkusi : tympani
Auskultasi : –

 Ektrimitas Atas
Inspeksi : Tidak simetris, terdapat odem pada tangan bagian bawah sebelah kiri, jari – jari lengkap, dan tangan sebelah kiri tidak dapat di gerakkan.
Palpasi : Terdapat nyeri tekan dan terdapat krepitasi.
 Ekstrimitas Bawah
Inspeksi : simetris,tidak ada odem, kedua kaki dapat di gerakkan, jari – jari lengkap.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan.

3. Data Penunjang

 Diagnosa Medis : Close fraktur osteo radius sinistra 1/3 distal.
 Tanggal : 09 – Maret – 2012.
– Cek : 1. Foto Antebrachi Sinistra : Close fraktur osteo radius sisnistra 1/3 distal.
2. Foto Torax : – Paru – paru normal
– Tidak dapat penyempitan jantung

– EKG : > HR : 77 Bpm
> QTC : 379 ms
> PR : 147 ms
> RVS : 0,77 mv
> QRS : 80 ms
> SVI : 0.90 mv
> QT : 333 ms
> QRS Axis : 40,8 deg

– Data Laboratorium

Nama Pasien : Ny. “T” Tanggal: 09 – Maret – 2012 Umur : 70 tahun
Ruang : IGD

1. Tes Fungsi Hati Angka Normal
o Bilirubin direct ……….. mg/dl 0,00 – 0,02
Total ……….. mg/dl < 1,00
o SGPOT …..39.. U/I L : 25 P : 21
o SGPT …18…. U/I L : 29 P : 22
o Total Protein ……….. g/dl 6 – 8
o Albumin ……….. g/dl 3,4 – 4,2
o Globumin ……….. g/dl 2,2 – 3,6
o Gamma GT ……….. U/I 5 – 38

2. Tes Fungsi Ginjal
o UREA …29,2. mg/dl 10 – 50 mg/dl
o KREATIN Serum …0,57. mg/dl L : 0,6 – 1,5 P : 0,5 – 12
o Asam Lirat ……….. mg/dl L : 3,4 – 7,7 P : 2,7 – 5,7
o Klierns Kreatin ……….. mg/dl 100 – 130 ml/liter

3. Tes Diabetes
o Gula darah Puasa ……….. mg/dl 80 – 110 mg/dl
o Gula Darah 2 jam pp …… mg/dl 110 – 140
o Gula Darah ACOCC ..11,4mg/dl 140
o HB AC ………… mg/dl 4 – 6

4. Tes Lemak
o Total Kolesterol ………… mg/dl 150 – 250
o HDL ………… mg/dl 45 – 65
o LDL ………… mg/dl < 150
o Tigliserida ………… mg/dl < 200

5. Elektrolit
o Na ………… mg/dl 136 – 144
o K ………… mg/dl 3,8 – 5,5
o G ………… mg/dl 97 – 113
o Ca ………… mg/dl 8,1 – 10,4

– Hasil Pemeriksaan Laboratorium Hematologi

Nama Pasien : Ny. "T" Tanggal: 09 – Maret – 2012 Umur : 70 tahun
Ruang : IGD

– Hematologi Angka Normal
– Haematoglobin : 13,0 g/dl L: 13,4 – 17
P: 11,4 – 15
– Leucocyt : 11.900 / mm3 4800 – 10.700
– Eritrocyt : – L: 4,5 – 6,5jt
P: 3,8 – 5,8 jt
– Trombocyt : 301.000 / mm3 150.000 –
350.000
– LED : – L: <15
P: < 20
– Hitung Jenis
o EOS : 6,5 % 1 – 3
o BASO : – 0 – 1
o ST AH : 7,8 % 3 – 5
o SEGMENT : – 30 – 70
o LYMPO : 11,7 % 25 – 30
o MONO : – 3 – 7
– Hematrocirit ( PVC) : 97,9 % L: 40 – 50
P: 35 – 45
– Retikulosit : – 0,8 – 1,5 %
– Bleeding time : 2,00 menit 1 – 7
– Clotting time : 11,30 menit 5 – 15
– PPT : – –
– APTT : – –
– Golongan Darah ABO/Rh : – –
– Malaria : – –

– Hasil Laboratorium

Nama Pasien : Ny. "T" Tanggal: 09 – Maret – 2012 Umur : 70 tahun
Ruang : IGD

o WBC : 11,9 X 103 / UL H
o Lymph # : 1,4 X 103 / UL
o Mid # : 0,8 X 103 /UL
o Gran # : 9,7 X 103 /UL H
o Lymph % : 11,7 % L
o Mid % : 6,5 %
o Gran % : 81,8 %
o HGB : 13,0 g/dl H
o RBC : 4,16 X 103 /UL
o HCT : 37,9 %
o MCV : 91,2 FL
o MCH : 31,2 Pg H
o MCHC : 34,3 g/dl
o RDW – CV : 14,5 %
o RDW – SD : 48,9 FL
o PLT : 301 x 103 /UL H
o MPV : 7,7 FL
o PDW : 15,5
o PCT : 0,231 %

 Terapi Medis :
– Infus RL, 20 tpm
– Injeksi ketorolac 30 mg

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Gangguan mobilitas berhubungan dengan gangguan patah tulang

III. ANALISA DATA

Nama Pasien : Ny. "T"
Umur : 70 tahun
Ruang : IGD

1. Data

Ds : Keluarga pasien mengatakan, bahwa pasien mengeluh kesakitan pada tangan sebelah kiri.

Do : K/U : Cukup
Kesadaran : Composmentis , GCS : 4 – 5 – 6
TTV : TD : 160/90 mmHg
N : 81 X / menit
S : 36˚ C
RR : 30 X / menit
– Tangan kiri odem, terdapat krepitasi, nyeri gerak (+), tangan
sebelah kiri tidak bisa digerakkan.
2. Masalah
– Gangguan mobilitas berhubungan dengan patah tulang.

3. Antisipasi Masalah Potensial
( – )

4. Identifikasi Kebutuhan Segera
( – )
IV. INTERVENSI
Nama Pasien : Ny. "T"
Umur : 70 tahun
Ruang : IGD

 Dx Keperawatan :
Gangguan mobilitas yang berhubungan dengan patah tulang tertutup ( close fraktur ) ekstrimitas atas – sinistra.

 Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 60 menit di harapkan
pasien dapat menunjukkan peningkatan mobilitas.

 Kriteria Hasil
-K/U baik
– Kesadaran Composmentis
– TTV : TD : 120/70 mmHg
N : 76 – 92 x / menit
S : 36,5˚C – 37,5 ˚C
RR : 16 – 24 x / menit
-Tangan tidak odem
– Tidak ada nyeri tekan
– Tangan bisa bergerak
– Tidak terdapat krepitasi

 Intervensi
1.) Lakukan pendekatan terapeutik dengan pasien dan keluarga pasien.
R/ : Menciptakan hubungan saling percaya antara pasien dan perawat.
2.) Banru pasien melakukan gerak aktif.
R/ : Mempertahankan otot dan moilitas fisik.
3.) Obsevasi TTV
R/ : Untuk mengetahui kondisi dan perkembangan pasien, serta untuk
menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya
4.) Kolaborasi dengan tim medis.
R/ : Memberi terapi secara tepat, yan diharapkan dapat mempercepat
proses penyembuhan.
5.) Kolaborasi dengan fisioterapi dalam progranm latihan.
R/ : Memberi terapi agar kekuatan mobilitas fisik kembali pulih.

V. IMPLEMENTASI

Tanggal / Jam : 09 – Maret – 2012 / 09.35 WIB
Nama Pasien : Ny. "T"
Umur : 70 tahun
Ruang : IGD

 Dx :
Gangguan mobilitas yanag berhubungan dengan patah tulang.

1.) Melakukan pendekatan dengan pasien dan keluarga pasien.
• Dengan cara memberi salam,menyapa pasien dan keluarga pasien serta menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan.

2.) Observasi TTV
• TD : 160/90 mmHg
• N : 81x / menit
• S : 36 ˚C
• RR : 30x / menit

3.) Membantu pasien melakukan gerak aktif
• Dengan cara mengajarkan pasien untuk melakukan gerakan – gerakan yang ringan, seperti mengepalkan telapak tangan dan melepaskannya secara perlahan.

4.) Kolaborasi dengan tim medis.
• Infus RL, 20 tpm
• Injeksi ketorolac 3 X 30 mg.

5.) Kolaborasi dengan fisio terapi dalam program latihan.
• Mengkolaborasikan dengan dokter dan fisio terapi

VI. EVALUASI

Tanggal / Jam : 09 – Maret – 2012 / 10.00 WIB
Nama Pasien : Ny. "T"
Umur : 70 tahun
Ruang : IGD

• S : Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien masih merasakan sakit pada tangan kirinya dan jika di gerakkan semakin terasa sakit.
• O :
TD : 160/90 mmHg
N : 81 X / menit
S : 36 ˚C
RR : 30 X / menit

– Tangan masih odem
– Masih terdapat nyeri tekan
– Tangan belum bisa bergerak
– Masih terdapat krepitasi.

• A : Masalah belum teratasi
• P : Intervensi dilanjutkan no: 1 dan 4
– Lakukan pendekatan pada pasien dan keluarga pasien.
o Senyum, menyapa dan menanyakan kondisi pasien.
– Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat dan terapi
o Infus RL, 20 tpm
o Injeksi ketorolac, 3 X 30 mg

VII. DATA PERKEMBANGAN

Tanggal / Jam : 09 – Maret – 2012 / 10.30 WIB
Nama Pasien : Ny. "T"
Umur : 70 tahun
Ruang : IGD

 Dx :
Gangguan mobilitas yanag berhubungan dengan patah tulang.

• S : Pasien mengatakan, bahwa rasa sakit pada tangannya sudah mulai
berkurang.Akan tetapi masih tidak bisa digerakkan.
• O :
K/U : Cukup
TD : 150/90 mmHg
N : 84 X / menit
S : 36,5 ˚C
RR : 24 X / menit

– Tangan masih odem
– Nyeri tekan sudah mulai berkurang
– Tangan belum bisa bergerak
– Krepitasi berkurang

• A : Masalah tertasi sebagian
• P : Intervensi dilanjutkan
Pasien di pindah ke ruang rawat inap, ruang argopuro RSUD R.A. BASOENI.

askep kdm (kebutuhan dasar manusia)

LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
DENGAN GANGGUAN RASA CEMAS DI RUANG ARGOPURO (BEDAH)
RSUD. R.A. BASOENI – MOJOKERTO

DI SUSUN OLEH:

KARTIKA
NIM: 02.11.223

PROGRAM DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DIAN HUSADA MOJOKERTO
TAHUN AKADEMIK 2011 – 2012

LAPORAN PENDAHULUAN

1. PENGERTIAN

– Kecemasan adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem syaraf otonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas atau nonspesifik. (Carpenito, 2000 : 9)

– Kecemasan merupakan suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologis, yang biasanya dirasakan oleh pasien preoperatif. (David, 2003 : 96)

– Kecemasan merupakan gejolak emosi seseorang yang berhubungan dengan sesuatu diluar dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam mengatasi permasalahan. (Asmadi, 2009 : 165)

2. ETIOLOGI
 Sebab – sebab terjadinya rasa cemas:

a) Perasaan takut
b) Rasa trauma, seperti perpisahan dan kehilangan
c) Penolakan terhadap eksistensi diri
d) Pengalaman pertama, seperti kehamilan pertama dan akan melakukan proses persalinan pertama kali.

(Asmadi , 2009 : 165)

3. PATOFISIOLOGI

( Asmadi , 2009)

 Skala Hars Cemas

Melalui skor dan item

o Skor > 6 : Tidak ada Kecemasan
o Skor 7 – 14 : Kecemasan ringan
o Skor 15 – 27 : Kecemasan sedang
o Skor > 27 : Kecemasan berat

4. MANISFESTASI KLINIK

 Tanda dan gejala timbulnya rasa cemas adalah :

a) Mempunyai firasat buruk, takut akan ketidakpastian
b) Merasa tegang, tidak tenang, gelisah , mudah terkejut
c) Takut sendirian
d) Gangguan pola tidur, mimpi – mimpi yang menegangkan.
e) Gangguan konsentrasi dan daya ingat
f) Keluhan – keluhan somatik, misalnya : rasa sakit otot dan tulang, berdebar – debar, sesak nafas, sakit kepala, dan lain sebagainya.

(Hawari , 2004)

 Faktor – faktor yang mempengaruhi rasa cemas :

a) Perubahan patologi dan penyebab penyakit
b) Trauma
c) Kekacauan hubungan sosial dan keluarga
d) Konflik sosial dan budaya
e) Perubahan fisiologis yang normal (Pubertas, menstruasi, kehamilan dan menopause). (Esperanza , 1997)
5. PENATALAKSANAAN DAN TERAPI

a) Pendekatan – pendekatan psikodinamika
(Mengambangkan tingkah laku yang adaptif)
b) Pendekatan – pendekatan humanistik
bekat –bakat serta perasaan – perasaan mereka yang sesungguhnya)
c) Pendekatan – pendekatan biologis
(Biasanya menggunakan variasi obat –obatn untuk mengobati gangguan kecemasan. Misalnya valium dan xanax)
d) Pendekatan – pendekatan belajar
( Usaha untuk membantu individu menjadi lebih efektif dalam menghadapi situasi yang menjadi penyebab munculnya kecemasn)

6. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

– Identitas Pasien
– Keluhan Utama
– Riwayat Kesehatan Sekarang
– Riwayat Kesehatan Dahulu
– Riwayat Penyakit Keluarga
– Pola Kebiasaan
1. Pola Nutrisi
2. Pola Eliminasi
3. Pola Personal Hygiene
4. Pola Istirahat
5. Pola Aktivitas
– Data Obyektif
– Pemeriksaan Fisik Head Totoe
a. Kepala
Inspeksi: Simetris, tidak terdapat ketombe, penyebaran rambut merata,
Palpasi: tidak terdapat benjolan dan bekas luka.
b. Mata
Inspeksi: Simetris,konjungtiva berwarna merah muda, sklera berwarna putih.
c. Hidung
Inspeksi: simetris, tidak terdapat labio palatoskisis, tidak terdapat tanda infeksi,
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan.
d. Telinga
Inspeksi: Daun telinga simetris, tidak terdapat serumen (bersih), tidak terdapat pembesaran kelenjar mastoid.
e. Mulut
Inspeksi: Tidak sariawan, tidak terdapat labioskisis, warna bibir merah muda.
f. Leher
Inspeksi: Tidak ada benjolan.
Palpasi: Kelenjar tyroid: tidak ada nyeri tekan dan pembesaran.
Vena jugularis : tidak ada pembendungan.
g. Pemeriksaan Dada
Inspeksi : Bentuk dada simetris, irama pernapasan teratur.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan,getaran suara antara kiri dan kanan sama.
Auskultasi : tidak ada suara tambahan ronchi / wheezing.
h. Abdomen
Inspeksi : bentuk abdomen simetris,tidak ada lika bekas operasi.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan pada semua abdomen.
Perkusi : tympani
Auskultasi : –

i. Ektrimitas atas
Inspeksi : simetris, tidak terdapat odem, jeri- jari lengkap dapat di gerkkan.
Palpasi ; tidak terdapat nyeri tekan dan tidak terdapat krepitasi.
j. Ekstrimitas bawah
Inspeksi : simetris,tidak ada odem, kedua kaki dapat di gerakkan, jari – jari lengkap.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan.

– Data Penunjang
a. Data Laboratorium
b. Terapi Medis

B. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa cemas

C. Analisa Data

– Data
– Masalah
– Antisipasi Maslah Potensial
– Identifikasi Kebutuhan Segera

D. Intervensi

1. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam diharapkan rasa cemas pasien dapat berkurang.

2. Kriteria Hasil

– Keadaan umum membaik
– Pasien tampak tenang
– Pasien tidak tampak kesakitan
– Pasien merasa nyaman
– Pasien sudah tidak menanyakan penyakitnya

7. Dx: Gangguan Rasa Cemas.

INTERVENSI RASIONAL
1.) Lakukan pendekatan dengan pasien dan keluarga pasien .

2.) Memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman

3.) Obsevasi TTV

4.) Kolaborasi dengan tim medis

5.) Memberikan tehnik relaksasi dan distraksi – Menciptakan hubungan saling percaya antara pasien dan perawat.
– Dengan memberikan lingkungngan yang tenang dan nyaman membuat pasien bisa beristirahat dengan tenang.

– Untuk mengetahui kondisi pasien dan mengetahui perkembangan pasien serta menentukan tindakan selanjutnya.

– Memberi terapi secara tepat, yang dihrapkan dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.

– Tehnik relaksasi untuk mengurangi ketegangan otot dan pengalihan perhatian sehingga dapat mengurangi rasa cemas

8. IMPLEMENTASI

Pemberian asuhan keperawatan tanpa pelaksanaan dari serangkaian kegiatan sistematis berdasrakan perencanaan untuk mencapai hasil yang maksimal.

9. EVALUASI

Menilai tercapai atau tidaknya tujuan, dilihat dari perilaku pasien dan keluarga serta keadaan fisik, sebagai berikut :

a. Tujuan tercapai jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan standrat
yang telah ditetapkan.
b. Tujuan tercapai sebagian jika klien menunjukkan perubahan dari kriteria dan standar yang di tetapkan.
c. Tujuan tidak tercapai jika klien tidak menunjukkan perubahan kemajuan sama dan bahkan timbul masalah baru, kolaborasi dengan dokter yang merawat.
DAFTAR PUSTAKA

 Andaners (2009) .Konsep Cemas, Sters dan Adaptasi. http // andaners. WordPress.com
 Asmadi (2009) . Tehnik Prosedural Keperrawatan Konsep Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika.
 Http : // respository . USU .ac .id / bitstream // chapter II.
 Http : // Pembaharuan keluarga . wordpress.com.

ASUHAN KEPERAWATAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PADA Nn.” E”
DENGAN GANGGUAN RASA CEMAS DI RUANG ARGOPURO (BEDAH)
RSUD. R.A. BASOENI – MOJOKERTO

DI SUSUN OLEH:

KARTIKA
NIM: 02.11.223

PROGRAM DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DIAN HUSADA MOJOKERTO
TAHUN AKADEMIK 2011 – 2012
ASUHAN KEPERAWATAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PADA Nn. ” E”
DENGAN GANGGUAN RASA CEMAS DI RUANG ARGOPURO
RSUD. R.A. BASOENI – MOJOKERTO

1. PENGKAJIAN

No. Registrasi : 214056
Ruang : Argopuro
Tanggal / Jam MRS : 27 – 02 – 2012 / 12.30 WIB
Tanggal / Jam Pengkajian : 28 – 02 – 2012 / 15.30 WIB
Diagnosa Medis : Osteosarcoma (kanker tulang)

 Identitas
a. Biodata

Nama : Nn. “E”
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 19 tahun
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Pekerjaan : –
Alamat : Kemlagi – Gedeg – Mojokerto

 Keluhan Utama

Pasien mengatakan , ” saya susah tidur dan merasa cemas dengan penyakit yang saya derita saat ini.”

 Riwayat Kesehatan Sekarang

Pasien mengatakan, ” saya mersa cemas karena setelah kecelakaan pada tanggal 01 – 02 – 2012 , jam 07.30 WIB, rasa sakit di lutut saya tidak kunjung sembuh dan semakin tersa sakit.
Pada waktu sebelum masuk rumah sakit saya hanya mengantisipasinya dengan obat penghilang rasa nyeri saja.
Akan tetapi rasa sakit masih tetap ada,oleh karena itu akhirnya saya bawa ke RS. R.A. Basoeni. Dan oleh pihak rumah sakit dianjurkan untuk rawat inap untuk pemeriksaan lebih lanjut dan perawatan yang intensif.
Akhirnya saya memutuskan untuk rawat inap tanggal 27 – 02 – 2012 dan saya di rawat di ruang argopuro (bedah).”

 Riwayat Kesehatan Dahulu

Pasien mengatakan, ” saya tidak pernah merasa secemas ini sebelumnya, karena pada waktu sebelum kecelakaan saya tidak pernah menderita penyakit seperti sekarang ini”

 Riwayat Kesehatan Keluarga

Keluarga pasien mengatakan, keluarga tidak mempunyai riwayat penyakit menurun, sperti diabetes, paru – paru, hipertensi, dll.
Keluarga pasien juga tidak mempunyai riwayat penyakit menular seperti, HIV, hepatitis, dll.

 Pola Kebiasaan

Pola Kebiasaan Sebelum Sakit Saat Sakit
– Nutrisi
1. Makan

2. Minum
– 3X sehari, porsi sedangdengan lauk sayur
– 7 – 8 gelas /hari ± 1500 – 2000 cc

– 2X sehari,makan bubur, setiap makan habis
± 4 – 6 sendok.
– 7 – 8 gelas / hari
± 1500 – 2000 cc.

– Eliminasi
1. BAB

2. BAK
– 2X / hari
– Konsistensi lunak

– 5 – 6 X / hari
– Warna kuning, bau khas.
– 2X sehari,dibantu keluarga.
– Konsistensi lunak
– 3 – 4 X / hari, dibantu keluarga.
– Warna kuning,bau khas.
-Personal Hygiene
1. Mandi

2.Gosok gigi

3. Keramas

4. Ganti pakaian

– Di kamar mandi
– 2X / hari
– Pakai air dingin
– Mandi sendiri
– Memakai sabun

– Dikamar mandi
– 2X / hari
– Pakai air dingin

– Dikamar mandi
– 2X / hari

– Dikamar
– 2X / hari

– Di tempat tidur
– Di seka 2X / hari
– Pakai air dingin
– Tidak memakai sabun

– Di tempa tidur
– 2X / hari
– Pakai air dingin

– Tidak keramas

– Di atas tempat tidur
– 1X / hari
– Pola Istirahat

Tidur

– Siang 2 – 3 jam
– Malam 8 – 9 jam
– nyenyak

– Siang 1 – 2 jam
– Malam 7 – 8 jam
– Tidur kurang nyenyak karena memikirkan penyakitnya
– Pola Aktivitas
– Segala kebutuhan dan kegiatan sehari – hari bisa dilakukan sendiri.
– Hanya bisa berbaring di tempat tidur.
– Segala kebuthan di bantu oleh keluarga.

2. Data Objektif

a. Pemeriksaan Umum

 K / U : Cukup
 Kesadaran : Composmentis
 GCS : 4 – 5 – 6
 Tekanan Darah (TD) : 110/ 70 mmHg
 Nadi : 120 X / menit
 Respirasi Rate (RR) : 24X / menit
 Suhu : 37,5˚ C

b. Pemeriksaan Fisik

 Kepala
Inspeksi : Simetris, tidak terdapat bekas luka, penyebaran rambut rata.
Palpasi : Tidak terdapat benjolan dan bekas luka.

 Mata
Inspeksi : Simetris, raflek pupil normal, bersih, tidak anemis, sklera tidak ikterik

 Hidung
Inspeksi: simetris, tidak terdapat labio palatoskisis, tidak terdapat tanda infeksi.
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan

 Telinga
Inspeksi: Daun telinga simetris, tidak terdapat serumen (bersih), tidak terdapat pembesaran kelenjar mastoid.

 Mulut
Inspeksi : Tidak sariawan, warna bibir merah muda, tidak terdapat labioskisis, lidah berwarna merah muda, gigi tidak berlubang, jumlah gigi lengkap.

 Leher
Inspeksi: Tidak ada benjolan.
Palpasi: Kelenjar tyroid: tidak ada nyeri tekan dan pembesaran.
Vena jugularis : tidak ada pembendungan.

 Pemeriksaan Dada
Inspeksi : Bentuk dada simetris, irama pernapasan teratur.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan,getaran suara antara kiri dan kanan sama.
Auskultasi : tidak ada suara tambahan ronchi / wheezing.

 Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : bentuk abdomen simetris,tidak ada lika bekas operasi.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan pada semua abdomen.
Perkusi : tympani
Auskultasi : –

 Ektrimitas Atas
Inspeksi : Simetris, tidak ada odem, terpasang infus RL pada tangan kiri, jari – jari tangan lengkap.
Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan dan krepitasi
.
 Ekstrimitas Bawah
Inspeksi : Tidak simetris,terdapat odem, kemerahan, jari – jari lengkap.
Palpasi : Terdapat nyeri tekan dn teraba panas
3. Data Penunjang

 Diagnosa Medis : Osteosarcoma (kanker tulang).
 Tanggal : 28 – 02 – 2012
– Cek : 1. Cruris : Close fraktur cruris sinistra.
2. Foto Torax : – Paru – paru normal
– Tidak dapat penyempitan jantung

– Data Laboratorium

Nama Pasien : Nn. “E” Tanggal: 27 – 02 – 2012 Umur : 19 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

1. Tes Fungsi Hati Angka Normal
o Bilirubin direct ……….. mg/dl 0,00 – 0,02
Total ……….. mg/dl < 1,00
o SGPOT ……….. U/I L : 25 P : 21
o SGPT ……….. U/I L : 29 P : 22
o Total Protein ….5,4.. g/dl 6 – 8
o Albumin ….3,6.. g/dl 3,4 – 4,2
o Globumin ….1,8.. g/dl 2,2 – 3,6
o Gamma GT ……….. U/I 5 – 38

2. Tes Fungsi Ginjal
o UREA ……….. mg/dl 10 – 50 mg/dl
o KREATIN Serum ……….. mg/dl L : 0,6 – 1,5 P : 0,5 – 12
o Asam Lirat ……….. mg/dl L : 3,4 – 7,7 P : 2,7 – 5,7
o Klierns Kreatin ……….. mg/dl 100 – 130 ml/liter

3. Tes Diabetes
o Gula darah Puasa ……….. mg/dl 80 – 110 mg/dl
o Gula Darah 2 jam pp …… mg/dl 110 – 140
o Gula Darah ACOCC …… mg/dl 140
o HB AC ………… mg/dl 4 – 6

4. Tes Lemak
o Total Kolesterol ………… mg/dl 150 – 250
o HDL ………… mg/dl 45 – 65
o LDL ………… mg/dl < 150
o Tigliserida ………… mg/dl 6 : tidak cemas
– Pasien sudah nampak tidak tegang
– Pasien sudah tidak lagi menanyakan tentang penyakitnya
– Pasien sudah bisa tidur dengan teratur.
• A : Masalah tertasi.
• P : Intervensi di hentikan
– Pasien sudah tidak merasa cemas dan sudah bisa merasa tenang.

 Healty Care

o Anjurkan pasien untuk tetap tenang
o Anjurkan pasien untuk istirahat cukup
o Anjurkan pasien banyak minum air putih
o Anjurkan pasien untuk teratur menjalankan cek up / kontrol.

PENANGANAN DM (DIABETES MELITUS)

PENANGANAN DIABETES : 10 CARA MENGHINDARI KOMPLIKASI
Penanganan diabetes merupakan tanggung jawab seumur hidup. Oleh sebab itu temui dokter untuk pemeriksaan berkala, periksakan mata, gigi dan lakukan gaya hidup sehat agar dapat meminimalkan komplikasi diabetes.

Penanganan diabetes dibutuhkan suatu inisiatif dan keteraturan. Dari memeriksa kadar gula darah hingga kaki setiap hari, dengan melakukan peran aktif untuk penanganan diabetes dapat mencegah atau setidaknya mengurangi komplikasi.

Dibawah ini ada 10 cara untuk berperan aktif dalam perawatan diabetes sehingga dapat menikmati hidup lebih sehat di masa yang akan datang:

1. Lakukan pemeriksaan fisik setiap tahun
Selain pemeriksaan rutin untuk mengawasi perawatan diabetes, lakukan juga pemeriksaan fisik sekali setahun. Dokter akan mencari masalah yang dapat terjadi akibat penyakit ini seperti komplikasi pada mata, ginjal dan jantung

2. Periksa mata setahun sekali
Pergi ke spesialis mata sekali tiap tahun dapat membantu untuk mendeteksi masalah penglihatan yang berkaitan dengan diabetes untuk dapat mendeteksi secara dini, sehingga lebih mudah ditangani maupun dicegah. Bila menderita diabetes dengan tekanan darah tinggi, penyakit ginjal atau kolesterol, mungkin diperlukan pemeriksaan ke spesialis mata lebih dari sekali dalam setahun.

3. Temui dokter gigi setahun dua kali
Kadar gula darah yang tinggi mengganggu sistem kekebalan tubuh, membatasi kemampuan tubuh untuk berperang dengan bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi. Karena mulut penuh dengan bakteri, maka infeksi juga dapat terjadi pada gusi. Oleh sebab itu sangat dianjurkan untuk menemui dokter gigi setahun dua kali untuk memeriksakan kesehatan mulut dan gigi

4. Vaksinasi tepat waktu
Selalu up to date terhadap vaksinasi yang dapat membantu mencegah terjadinya komplikasi akibat diabetes. Contohnya adalah:

* Vaksinasi flu tahunan. Berapapun usia, maka penderita diabetes akan rentan terkena influenza daripada yang tidak menderita diabetes. Penderita diabetes rentan terserang flu daripada orang yang tidak menderita diabetes. Karena diabetes pula, maka flu dapat berkembang menjadi komplikasi yang serius, termasuk diabetic ketoacidosis (DKA) dan sindrom hiperosmolar.
* Vaksin untuk radang paru. Hampir tiap dokter akan merekomendasikan pada penderita diabetes untuk vaksinasi radang paru-paru. Apabila telah menderita komplikasi akibat diabetes atau berusia lebih dari 65 tahun maka akan dibutuhkan vaksinasi ulang setiap 5 tahun.
* Vaksinasi lainnya. Selalu uptodate terhadap vaksinasi tetanus juga jangan lupa untuk vaksinasi ulang setiap 10 tahun. Vaksinasi hepatitis B juga sangat penting.

5. Rawat kebersihan dan kesehatan kaki
Penderita diabetes beresiko tinggi untuk menderita penyakit pada kaki dalam dua cara yaitu:

* Diabetes dapat merusak syaraf-syaraf di kaki (neuropathy), mengurangi sensasi nyeri. Ini berarti dapat terjadi ruam dan memar tanpa menyadarinya.
* Diabetes dapat menyempitkan atau menutup arteri (atherosklerosis), mengurangi aliran darah menuju kaki. Dengan kurangnya darah untuk memberi makan jaringan di kaki, maka luka akan semakin sulit untuk sembuh. Sayatan yang tersembunyi atau luka kecil yang terlindung oleh sepatu atau kaus kaki dapat dengan cepat berkembang menjadi luka yang serius.

6. Jangan merokok
Orang yang mengidap diabetes dan merokok sering kali ditemukan meninggal karena serangan jantung, stroke dan penyakit lainnya daripada penderita diabetes yang tidak merokok. Hal ini karena:

* Merokok menyempitkan pembuluh darah, serta menurunkan aliran darah menuju kaki. Penyempitan arteri meningkatkan resiko dari serangan jantung dan stroke, dan juga membuat luka menjadi lebih sukar untuk sembuh.
* Merokok meningkatkan resiko untuk kerusakan syaraf dan penyakit ginjal.
* Merokok juga mengganggu sistem kekebalan tubuh, sehingga membuat lebih rentan terhadap infeksi pernafasan dan influenza.

7. Minum aspirin tiap hari
American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan para pengidap diabetes untuk mengkonsumsi aspirin setiap hari satu kali karena dapat mengurangi resiko terkena serangan jantung. Dosis yang direkomendasikan adalah mulai dari 81 mg sehari,hingga 325 mg sehari. Mengkonsumsi lebih dari jumlah tersebut tidak akan meningkatkan keuntungannya. Konsultasikan pada dokter untuk meyakinkan apakah aspirin aman untuk diminum harian, bila iya, cari tahu berapa banyak dosis aspirin yang harus digunakan.

8. Awasi tekanan darah
Sama seperti diabetes, tekanan darah yang tinggi juga dapat merusak pembuluh darah. Bila kedua keadaan ini muncul, maka dapat terjadi serangan jantung, stroke atau kondisi lain yang mengancam jiwa.

Untuk orang dewasa dengan atau tanpa diabetes, tekanan darah normal adalah 120/80 mmHg. Bila anda memiliki tekanan darah tinggi atau diabetes, ADA merekomendasikan untuk mendapatkan perawatan yang bertujuan agar tekanan darah tidak lebih dari 130/80 mmHg. Kebiasaan hidup sehat yang dapat mempertahankan kadar gula darah yaitu makan makanan yang seimbang dan olah raga yang rutin dapat pula menurunkan tekanan darah. Menurunkan jumlah garam (natrium) dalam makanan yang dikonsumsi sehari-hari dan membatasi jumlah alkohol juga penting untuk mengontrol tekanan darah.

9. Memeriksa kadar gula darah
Mengatur kadar gula darah merupakan hal yang paling penting untuk merasa lebih baik dan mencegah komplikasi lebih lanjut dari diabetes. Dengan mengawasi kadar gula darah dan tetap menjaganya normal, maka akan mengurangi resiko kerusakan mata, ginjal, pembuluh darah dan syaraf.

10. Penanganan stress
Stress dapat meningkatkan produksi hormon yang dapat memblokir efek dari insulin, yang menyebabkan kadar gula darah meningkat. Bila sedang terserang stress, maka akan sulit untuk merawat diri sendiri maupun mengelola diabetes. Anda mungkin tidak sempat untuk mengkonsumsi makanan yang dianjurkan, memeriksa kadar gula darah, berolah raga atau minum obat seperti yang telah diresepkan. Stress yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan depresi oleh sebab itu penanganan stress yang baik sangat dibutuhkan.
http://terkenalasyik.blogspot.com/2008/08/penanganan-diabetes-10-cara-menghindari.html

PENYAKIT DIABETES MELITUS

Penyakit Diabetes Mellitus (DM)
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.

Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah.
• Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus
Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 – 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut.

Penderita kencing manis umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita :

1. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria)
2. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia)
3. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia)
4. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria)
5. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
6. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki
7. Cepat lelah dan lemah setiap waktu
8. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba
9. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya
10.Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.

Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma. Gejala kencing manis dapat berkembang dengan cepat waktu ke waktu dalam hitungan minggu atau bulan, terutama pada seorang anak yang menderita penyakit diabetes mellitus tipe 1.

Lain halnya pada penderita diabetes mellitus tipe 2, umumnya mereka tidak mengalami berbagai gejala diatas. Bahkan mereka mungkin tidak mengetahui telah menderita kencing manis.
• Tipe Penyakit Diabetes Mellitus
1. Diabetes mellitus tipe 1
Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada insulin dimana tubuh kekurangan hormon insulin,dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Hal ini disebabkan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Diabetes tipe 1 banyak ditemukan pada balita, anak-anak dan remaja.

Sampai saat ini, Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat di obati dengan pemberian therapi insulin yang dilakukan secara terus menerus berkesinambungan. Riwayat keluarga, diet dan faktor lingkungan sangat mempengaruhi perawatan penderita diabetes tipe 1. Pada penderita diebetes tipe 1 haruslah diperhatikan pengontrolan dan memonitor kadar gula darahnya, sebaiknya menggunakan alat test gula darah. Terutama pada anak-anak atau balita yang mana mereka sangat mudah mengalami dehidrasi, sering muntah dan mudah terserang berbagai penyakit.

2. Diabetes mellitus tipe 2
Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan seperti kecacatan dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas (respon) sell dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah.

Ada beberapa teori yang mengutarakan sebab terjadinya resisten terhadap insulin, diantaranya faktor kegemukan (obesitas). Pada penderita diabetes tipe 2, pengontrolan kadar gula darah dapat dilakukan dengan beberapa tindakan seperti diet, penurunan berat badan, dan pemberian tablet diabetik. Apabila dengan pemberian tablet belum maksimal respon penanganan level gula dalam darah, maka obat suntik mulai dipertimbangkan untuk diberikan.
• Kadar Gula Dalam Darah
Normalnya kadar gula dalam darah berkisar antara 70 – 150 mg/dL {millimoles/liter (satuan unit United Kingdom)} atau 4 – 8 mmol/l {milligrams/deciliter (satuan unit United State)}, Dimana 1 mmol/l = 18 mg/dl.

Namun demikian, kadar gula tentu saja terjadi peningkatan setelah makan dan mengalami penurunan diwaktu pagi hari bangun tidur. Seseorang dikatakan mengalami hyperglycemia apabila kadar gula dalam darah jauh diatas nilai normal, sedangkan hypoglycemia adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami penurunan nilai gula dalam darah dibawah normal.

Diagnosa Diabetes dapat ditegakkan jika hasil pemeriksaan gula darah puasa mencapai level 126 mg/dl atau bahkan lebih, dan pemeriksaan gula darah 2 jam setelah puasa (minimal 8 jam) mencapai level 180 mg/dl. Sedangkan pemeriksaan gula darah yang dilakukan secara random (sewaktu) dapat membantu diagnosa diabetes jika nilai kadar gula darah mencapai level antara 140 mg/dL dan 200 mg/dL, terlebih lagi bila dia atas 200 mg/dl.

Banyak alat test gula darah yang diperdagangkan saat ini dan dapat dibeli dibanyak tempat penjualan alat kesehatan atau apotik seperti Accu-Chek, BCJ Group, Accurate, OneTouch UltraEasy machine. Bagi penderita yang terdiagnosa Diabetes Mellitus, ada baiknya bagi mereka jika mampu untuk membelinya.
• Pengobatan dan Penanganan Penyakit Diabetes
Penderita diabetes tipe 1 umumnya menjalani pengobatan therapi insulin (Lantus/Levemir, Humalog, Novolog atau Apidra) yang berkesinambungan, selain itu adalah dengan berolahraga secukupnya serta melakukan pengontrolan menu makanan (diet).

Pada penderita diabetes mellitus tipe 2, penatalaksanaan pengobatan dan penanganan difokuskan pada gaya hidup dan aktivitas fisik. Pengontrolan nilai kadar gula dalam darah adalah menjadi kunci program pengobatan, yaitu dengan mengurangi berat badan, diet, dan berolahraga. Jika hal ini tidak mencapai hasil yang diharapkan, maka pemberian obat tablet akan diperlukan. Bahkan pemberian suntikan insulin turut diperlukan bila tablet tidak mengatasi pengontrolan kadar gula darah.
http://www.infopenyakit.com/2008/03/penyakit-diabetes-mellitus-dm.html

telemedicine

Telemedicine merupakan suatu layanan kesehatan antara dokter atau praktisi kesehatan dengan pasien jarak jauh guna mengirimkan data medik pasien menggunakan komunikasi audio visual mengunakan infrastruktur telekomunikasi yang sudah ada misalnya menggunakan internet,satelit dan lain sebagainya.

http://riyadi2405.wordpress.com/2010/11/11/telemedicine/

pendapat:
menurut saya penerapan telemedicine dalam dunia kesehatan kurang baik.
karena jika ada seorang pasien yang konsultasi masalah kesehatan melalui audio visual atau tidak secara langsung maka bisa saja akan timbul kesala pahaman akan diagnosa tentang penyakitnya.
karena suatu penyakit atau kondisi seseorang tidak bisa di diagnosa begitu saja tanpa melihat kondisi fisik pasien secara langsung.
oleh karena itu menurut saya penerapan telemedicine bisa di gunakan hanya untuk membuat perjanjian dan dilanjutkan dengan konsultasi bertemu secara langsung.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.