askep kdm elimunasi alvi

LAPORAN PENDAHULUAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
DENGAN GANGGUAN ELIMINASI ALVI
DI RUANG ARGOPURO (BEDAH)
RSUD. R.A. BASOENI – MOJOKERTO

DI SUSUN OLEH:
KARTIKA
NIM: 02.11.223

PROGRAM DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DIAN HUSADA MOJOKERTO
TAHUN AKADEMIK 2011 – 2012

LAPORAN PENDAHULUAN

1. PENGERTIAN

– Eliminasi alvi adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses yang berasal dari saluran pencernaan melalui anus. ( Tarwoto, 2004, 48)

– Eliminasi alvi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah padat yang berasal dari sistem pencernaan makhluk hidup. ( Wartonah, 2004)

2. KARAKTERISTIK FESES NORMAL DAN ABNORMAL

a) Normal
 Warna : -Bayi : Kecoklatan
-Dewasa : Kekuningan
 Konsistensi : Berbentuk lunak, agak cair / lembek, basah.
 Bentuk : Silinder (bentuk rektum)
 Jumlah : 100 – 400 gr / hari
 Bau : Khar, dipengaruhi oleh makanan yang di makan

b) Abnormal
o Warna :Pekat / putih, hitam, merah, pucat.
o Konsistensi : Keras, kering
o Bentuk : Mengecil, bentuk pensil
o Jumlah : –
o Bau : Tajam, pedas

(Suprianto)

3. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ELIMINASI ALVI

a) Usia
Pada usia bayi kontrol defiksasi belum berkembang, sedangkan pada usia manula kontrol defeksasi menurun.

b) Diet
Makanan berserat akan mempercepat produksi feses, banyaknya makanan yang masuk kedalam tubuh juga mempercepat proses defeksasi.

c) Intake cairan
Intake cairan yang kurang akan menyebabkan feses menjadi keras,disebabkan karena absorpsi cairan meningkat.

d) Aktivitas
Tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma akan sangat membantu proses defekasasi. Gerakan peristaltik akan memudahkan bahan feses bergerak sepanjang kolon.

e) Fisiologis
Keadaan cemas, takut dan marah akan meningkatkan peristaltik sehingga menyebabkan diare.

f) Posisi selama defeksasi
Posisi jongkok merupakan posisi yang normal saat melakukan defeksasi. Toilet modern di rancang untuk memfasilitasi posisi ini, sehingga memungkinkan individu untuk duduk tegak kearah depan, mengeluarkan tekanan intra abdomen dan mengeluarkan kontraksi otot – otot pahanya.

(Wartonah , 2004)

4. MASALAH – MASALAH DALAM ELIMINASI ALVI

a. Diare
Keluarnya feses cair dan meningkatkan frekuensi buang air besar akibat cepatnya anyme melewati usus besar, sehingga usus besar tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menyerap air.

b. Konstipasi
Gangguan eliminasi alvi yang di akibatkan adanya feses yang kering dan keras melalui usus besar.

c. Kembung (akumulasi gas)
Penyebab umum abdomen menjadi penuh, terasa nyeri dan kram.

(Suprianto, 2005)

5. PATOFISIOLOGI

Penjelasan Patofisiologi

– Konstipasi yaitu gangguan eliminasi alvi yang di sebabkan oleh penumpukan feses di dalam kolon atau usus besar.
– Konstipasi mempunyai 2 reflek yang dapat mempengaruhi proses pengeluaran feses yaitu, reflekintrinsik dan reflek parasimpatis.
 Reflek intrinsic yaitu gelombang yang menekan feses kearah anus.
 Reflek parasimpatis yaitu, peningkatan gelombang peristaltik yang melemaskan spingter anus.
– Pada saat dua reflek tersebut dilakukan, aka terjadilah proses pengeluaran
feses, dan apabila kedua reflek tersebut di abaikan maka akan terjadi
pengersan feses sehingga terjadi konstipasi.
– Dan beberapa penyebab yang menyebabkan reflek tersebut di abaikan, – yaitu karena menurunya aktifitas fisik, menurunya mobilitas internal, dan penurunan atau pembatasan diet.

(Hariyanto, 2005)

6. TANDA DAN GEJALA

1. Gelisah
2. Rewel
3. Nafsu makan menurun
4. Tinja padat, keras, kering
5. Volume darah akan berkurang sehingga nadi lebih cepat dan kecil
6. TD menurun, dan kesadaran juga menurun.

7. PENATALAKSANAAN DAN TERAPI

Pengambilan cairan dan elektrolit yang hilang (rehidrasi). Cairan yang dapat diberikan adalah : Ringer Laktat (RL), dan larutan NaCl 0,9 % : Natrium Bikarabonat = 2 : 1, dengan tambahan KCl 3 X 1 gram secara oral.
Setelah diagnosis ditegakkan, maka rehidrasi dapat dilakukan menurut penilaian keadaan dehidrasi :
Pada keadaan syokk atau pre syok cairan diberikan dengan memakai rumus : Skor / 15 X B X 10 % X 1 liter
Jumlah cairan ini diberikan dalam waktu 2 jam kemudian diikuti dengan pemberian sebanyak pengeluaran selama 2 jam sebelumnya. Bila setelah 3 jam syok di atasi, maka berikan cairan elektrolit peroral. Bila masih keadaan syok / presyok maka skema di atas di ulang.

8. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
– Identitas Pasien
– Keluhan Utama
– Riwayat Kesehatan Sekarang
– Riwayat Kesehatan Dahulu
– Riwayat Penyakit Keluarga
– Pola Kebiasaan
1. Pola Nutrisi
2. Pola Eliminasi
3. Pola Personal Hygiene
4. Pola Istirahat
5. Pola Aktivitas
– Data Obyektif

– Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
Inspeksi: Simetris, tidak terdapat ketombe, penyebaran rambut merata,
Palpasi: tidak terdapat benjolan dan bekas luka.
b. Mata
Inspeksi: Simetris,konjungtiva berwarna merah muda, sklera berwarna putih.
c. Hidung
Inspeksi: simetris, tidak terdapat labio palatoskisis, tidak terdapat tanda infeksi,
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan.
d. Telinga
Inspeksi: Daun telinga simetris, tidak terdapat serumen (bersih), tidak terdapat pembesaran kelenjar mastoid.
e. Mulut
Inspeksi: Tidak sariawan, tidak terdapat labioskisis, warna bibir merah muda.
f. Leher
Inspeksi: Tidak ada benjolan.
Palpasi: Kelenjar tyroid: tidak ada nyeri tekan dan pembesaran.
Vena jugularis : tidak ada pembendungan.
g. Pemeriksaan Dada
Inspeksi : Bentuk dada simetris, irama pernapasan teratur.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan,getaran suara antara kiri dan kanan sama.
Auskultasi : tidak ada suara tambahan ronchi / wheezing.

h. Abdomen
Inspeksi : bentuk abdomen simetris,tidak ada lika bekas operasi.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan pada semua abdomen.
Perkusi : tympani
Auskultasi : –
i. Ektrimitas atas
Inspeksi : simetris, tidak terdapat odem, jeri- jari lengkap dapat di gerkkan.
Palpasi ; tidak terdapat nyeri tekan dan tidak terdapat krepitasi.
j. Ekstrimitas bawah
Inspeksi : simetris,tidak ada odem, kedua kaki dapat di gerakkan, jari – jari lengkap.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan.

– Data Penunjang
a. Data Laboratorium
b. Terapi Medis

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan eliminasi alvi yang berhubungan dengan konstipasi pada
kolon
2. Gangguan eliminasi alvi yang berhubungan dengan dehidrasi
3. Gangguan eliminasi alvi yang berhubungan dengan mobilitas intestinal.

C. Analisa Data

– Data
– Masalah
– Antisipasi Maslah Potensial
– Identifikasi Kebutuhan Segera

D. Intervensi

1. Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam diharapkan pasien bisa buang air besar dengan lancar.

2. Kriteria Hasil

– Keadaan umum membaik
– Pasien bisa buang air besar dengan lancar
– Pasien bisa makan dengan teratur
– Pasien merasa nyaman.

7. Dx: Gangguan Rasa Cemas.

INTERVENSI RASIONAL
1.) Lakukan pendekatan dengan pasien dan keluarga pasien .

2.) Memberikan cairan adekuat

3.) Obsevasi TTV

4.) Kolaborasi dengan tim medis

5.) Memberikan makanan tinggi serat. – Menciptakan hubungan saling percaya antara pasien dan perawat.
– Dengan pemberian cairan adekuat, dapat melunakkan feses sehingga proses BAB lebih mudah dan lancar.

– Untuk mengetahui kondisi pasien dan mengetahui perkembangan pasien serta menentukan tindakan selanjutnya.

– Memberi terapi secara tepat, yang dihrapkan dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.

– Dengan makan makanan yang berserat tinggi bisa membantu menurunkan konstipasi, sehingga pasien bisa melakukan BAB dengan lamcar.

8. IMPLEMENTASI

Pemberian asuhan keperawatan tanpa pelaksanaan dari serangkaian kegiatan sistematis berdasrakan perencanaan untuk mencapai hasil yang maksimal.

9. EVALUASI

Menilai tercapai atau tidaknya tujuan, dilihat dari perilaku pasien dan keluarga serta keadaan fisik, sebagai berikut :

a. Tujuan tercapai jika klien menunjukkan perubahan sesuai dengan standrat
yang telah ditetapkan.
b. Tujuan tercapai sebagian jika klien menunjukkan perubahan dari kriteria dan standar yang di tetapkan.
c. Tujuan tidak tercapai jika klien tidak menunjukkan perubahan kemajuan sama dan bahkan timbul masalah baru, kolaborasi dengan dokter yang merawat.
DAFTAR PUSTAKA

 Hidayat, A. Aziz Alimul . 2005 . Kebutuhan Dasar Manusia . Jakarta : EGC.
 Dongoes, Marydin E. 2000 . Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.
 Carpenito , Lynda Juall . 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan . Jakarta: EGC.
 Wartonah dan Tarwotoh . 2004. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan . Salemba Medika : Jakarta.
 Perry, Potter . 2005 . Fundamental Keperawatan . EGC : Jakarta.

ASUHAN KEPERAWATAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PADA Tn.” S”
DENGAN GANGGUAN ELIMINASI ALVI
DI RUANG ARGOPURO (BEDAH)
RSUD. R.A. BASOENI – MOJOKERTO

DI SUSUN OLEH:

KARTIKA
NIM: 02.11.223

PROGRAM DIII KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DIAN HUSADA MOJOKERTO
TAHUN AKADEMIK 2011 – 2012
ASUHAN KEPERAWATAN
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PADA Nn. ” E”
DENGAN GANGGUAN RASA CEMAS DI RUANG ARGOPURO
RSUD. R.A. BASOENI – MOJOKERTO

1. PENGKAJIAN

No. Registrasi : 050825
Ruang : Argopuro
Tanggal / Jam MRS : 11 – 03 – 2012 / 12.45 WIB
Tanggal / Jam Pengkajian : 14 – 03 – 2012 / 15.00 WIB
Diagnosa Medis : COS + Open Fraktur Cruris Sinistra Multiple
Ekskriasi

 Identitas
a. Biodata

Nama : Tn. “S”
Jenis Kelamin : Laki – laki
Umur : 32 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Jl. Merpati Ds. Pagen Tanjung
Status : Sudah kawin

 Keluhan Utama

Pasien mengatakan , “saya susah buang air besar sejak setelah di operasi.”

 Riwayat Kesehatan Sekarang

Pasien mengatakan, ” Saya merasa susah buang air besar setelah saya melakukan operasi pada kaki saya, yang pada waktu itu operasinya di lakukan pada tanggal 13 – 03 – 2012 pukul 10.05 WIB.Sebelum operasi saya bisa buang air besar dengan lancar tetapi setelah saya operasi saya merasa susah buang air besar.”

 Riwayat Kesehatan Dahulu

Pasien mengatakan, ” Sebelum saya masuk rumah sakit dan sebelum saya di operasi, proses buang air besar saya lancar dan tidak susah seperti sekarang ini.”

 Riwayat Psikososial

o Dirumah hubungan antara pasien dengan keluarga dan tetangga pasien sangat harmonis dan rukun. Dan tidak pernah terjadi perselisihan antara pasien dengan keluarga maupun tetangga pasien.
o Saat masuk rumah sakit, hubungan pasien dengan pasien yang lainjuga terjalin dengan baik.

 Pola Kebiasaan

Pola Kebiasaan Sebelum Sakit Saat Sakit
– Nutrisi
1. Makan

2. Minum
– 3X sehari, porsi sedangdengan lauk sayur

– 7 – 8 gelas /hari ± 1500 – 2000 cc

– 2X sehari,makan bubur dan buah pisang, setiap makan habis .
– 7 – 8 gelas / hari
± 1500 – 2000 cc.

– Eliminasi
1. BAB

2. BAK
– 2X / hari
– Konsistensi lunak

– 5 – 6 X / hari
– Warna kuning, bau khas.
– Sebelum operasi BAB 1 X / hari pagi saja,Setelah operasi susah BAB, jadi 1 hari tidak BAB.
– Konsistensi keras, warna coklat.
– 3 – 4 X / hari, dibantu keluarga.
– Warna kuning,bau khas.
-Personal Hygiene
1. Mandi

2.Gosok gigi

3. Keramas

4. Ganti pakaian

– Di kamar mandi
– 2X / hari
– Pakai air dingin
– Mandi sendiri
– Memakai sabun

– Dikamar mandi
– 2X / hari
– Pakai air dingin

– Dikamar mandi
– 2X / hari

– Dikamar
– 2X / hari

– Di tempat tidur
– Di seka 2X / hari
– Pakai air dingin
– Tidak memakai sabun

– Di tempa tidur
– 2X / hari
– Pakai air dingin

– Tidak keramas

– Di atas tempat tidur
– 1X / hari
– Pola Istirahat

Tidur

– Siang 2 – 3 jam
– Malam 8 – 9 jam
– nyenyak

– Siang 1 – 2 jam
– Malam 7 – 8 jam
– Tidur kurang nyenyak karena memikirkan penyakitnya
– Pola Aktivitas
– Segala kebutuhan dan kegiatan sehari – hari bisa dilakukan sendiri.
– Hanya bisa berbaring di tempat tidur.
– Segala kebuthan di bantu oleh keluarga.

2. Data Objektif

a. Pemeriksaan Umum

 K / U : Cukup
 Kesadaran : Composmentis
 GCS : 4 – 5 – 6
 Tekanan Darah (TD) : 110/ 70 mmHg
 Nadi : 88 X / menit
 Respirasi Rate (RR) : 22X / menit
 Suhu : 37,5˚ C

b. Pemeriksaan Fisik

 Kepala
Inspeksi : Simetris, tidak terdapat bekas luka, penyebaran rambut rata.
Palpasi : Tidak terdapat benjolan dan bekas luka.

 Mata
Inspeksi : Simetris, raflek pupil normal, bersih, tidak anemis, sklera tidak ikterik

 Hidung
Inspeksi: simetris, tidak terdapat labio palatoskisis, tidak terdapat tanda infeksi.
Palpasi: Tidak ada nyeri tekan

 Telinga
Inspeksi: Daun telinga simetris, tidak terdapat serumen (bersih), tidak terdapat pembesaran kelenjar mastoid.

 Mulut
Inspeksi : Tidak sariawan, warna bibir merah muda, tidak terdapat labioskisis, lidah berwarna merah muda, gigi tidak berlubang, jumlah gigi lengkap.

 Leher
Inspeksi: Tidak ada benjolan.
Palpasi: Kelenjar tyroid: tidak ada nyeri tekan dan pembesaran.
Vena jugularis : tidak ada pembendungan.

 Pemeriksaan Dada
Inspeksi : Bentuk dada simetris, irama pernapasan teratur.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan,getaran suara antara kiri dan kanan sama.
Auskultasi : tidak ada suara tambahan ronchi / wheezing.

 Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : bentuk abdomen simetris,tidak ada lika bekas operasi.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan pada semua abdomen.
Perkusi : tympani
Auskultasi : Bising usus 12 X/ menit, peristaltik melemah 15 X / menit.

 Ektrimitas Atas
Inspeksi : Simetris, tidak ada odem, terpasang infus RL pada tangan kiri, jari – jari tangan lengkap.
Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan dan krepitasi
.
 Ekstrimitas Bawah
Inspeksi : Tidak simetris,terdapat odem, warna biru kehitaman, jari – jari lengkap.
Palpasi : Terdapat nyeri tekan dn teraba dingin.

3. Data Penunjang

 Diagnosa Medis : COS + Open Fraktur Cruris Sinistra Multiple
Ekskriasi
 Tanggal : 28 – 02 – 2012

– Cek : 1. Cruris : Open fraktur cruris sinistra.
2. Foto Torax : – Paru – paru normal
– Tidak dapat penyempitan jantung

– Data Laboratorium

Nama Pasien : Tn. “S” Tanggal: 11 – 03 – 2012 Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

1. Tes Fungsi Hati Angka Normal
o Bilirubin direct ……….. mg/dl 0,00 – 0,02
Total ……….. mg/dl < 1,00
o SGPOT ..58,2.. U/I L : 25 P : 21
o SGPT ..35,5.. U/I L : 29 P : 22
o Total Protein ……….. g/dl 6 – 8
o Albumin ……….. g/dl 3,4 – 4,2
o Globumin ……….. g/dl 2,2 – 3,6
o Gamma GT ……….. U/I 5 – 38

2. Tes Fungsi Ginjal
o UREA ….28,7. mg/dl 10 – 50 mg/dl
o KREATIN Serum ….0.90. mg/dl L : 0,6 – 1,5 P : 0,5 – 12
o Asam Lirat ……….. mg/dl L : 3,4 – 7,7 P : 2,7 – 5,7
o Klierns Kreatin ……….. mg/dl 100 – 130 ml/liter

3. Tes Diabetes
o Gula darah Puasa ……….. mg/dl 80 – 110 mg/dl
o Gula Darah 2 jam pp …… mg/dl 110 – 140
o Gula Darah ACOCC .105,0 mg/dl 140
o HB AC ………… mg/dl 4 – 6

4. Tes Lemak
o Total Kolesterol ………… mg/dl 150 – 250
o HDL ………… mg/dl 45 – 65
o LDL ………… mg/dl < 150
o Tigliserida ………… mg/dl < 200

5. Elektrolit
o Na ………… mg/dl 136 – 144
o K ………… mg/dl 3,8 – 5,5
o G ………… mg/dl 97 – 113
o Ca ………… mg/dl 8,1 – 10,4

– Hasil Laboratorium

Nama Pasien : Tn. "S" Tanggal: 11 – 03 – 2012 Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

o WBC : 27,1 X 103 / UL H
o Lymph # : 4,2 X 103 / UL
o Mid # : 1,9 X 103 /UL
o Gran # : 23,8 X 103 /UL H
o Lymph % : 6,4 % L
o Mid % : 7,1 %
o Gran % : 84,3 %
o HGB : 13,3 g/dl H
o RBC : 4,04 X 103 /UL
o HCT : 39,1 %
o MCV : 90,9 FL
o MCH : 32,9 Pg H
o MCHC : 34,0 g/dl
o RDW – CV : 13,5 %
o RDW – SD : 49,7 FL
o PLT : 147 x 103 /UL H
o MPV : 7,7 FL
o PDW : 15,8
o PCT : 0,113 %
 Terapi Medis :
– Infus RL, 20 tpm
– Injeksi ketorolac 3 X 30 mg
– Injeksi Cefotaxime 3 X 1 ampul
– P/R stolax supp II
– Injeksi nevaldo 3X 1 ampul
II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Gangguan buang air besar ( BAB / Eliminasi alvi) berhubungan dengan konstipasi pada kolon.

III. ANALISA DATA

Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

1. Data

Ds : Pasien mengatakan, " saya susah buang air besar sejak setelah di operasi."

Do : K/U : Cukup
Kesadaran : Composmentis , GCS : 4 – 5 – 6
TTV : TD : 110/70 mmHg
N : 88 X / menit
S : 37,5˚ C
RR : 22 X / menit
– Terpasang infus RL, 20 tpm, di tangan sebelah kiri.
– Pasien belum bisa BAB selama 2 hari
– Nafsu makan menurun
– Teraba massa di abdomen
– Peristaltik melemah : 15 X / menit
– Bising usus : 12 X / menit
– Pasien bedtress

2. Masalah
– Gangguan eliminasi alvi

3. Antisipasi Masalah Potensial
( – )

4. Identifikasi Kebutuhan Segera
( – )

IV. INTERVENSI
Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

 Dx Keperawatan :
Gangguan buang air besar ( BAB / Eliminasi alvi) berhubungan dengan konstipasi pada kolon.

 Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam, diharapkan pasien bisa buang air besar dengan lancar.

 Kriteria Hasil

o Keadaan umum membaik
o Pasien bisa buang air besar dengan lancar
o Pasien bisa makan dengan teratur
o Pasien merasa nyaman.

 Intervensi
1.) Lakukan pendekatan terapeutik dengan pasien dan keluarga pasien.
R/ : Menciptakan hubungan saling percaya antara pasien dan perawat.
2.). Memberikan cairan adekuat
R/ : Dengan pemberian cairan adekuat, dapat melunakkan feses
sehingga proses BAB lebih mudah dan lancar.
3.) Obsevasi TTV
R/ : Untuk mengetahui kondisi dan perkembangan pasien, serta untuk
menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya
4.) Kolaborasi dengan tim medis.
R/ : Memberi terapi secara tepat, yan diharapkan dapat mempercepat
proses penyembuhan.
5.) Memberikan makanan tinggi serat.
R/ : Dengan makan makanan yang berserat tinggi bisa membantu menurunkan konstipasi, sehingga pasien bisa melakukan BAB dengan lamcar.

V. IMPLEMENTASI

Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro

 Dx :
Gangguan buang air besar ( BAB / Eliminasi alvi) berhubungan dengan konstipasi pada kolon.

1.) Melakukan pendekatan dengan pasien dan keluarga pasien.
• Dengan cara memberi salam,menyapa pasien dan keluarga pasien serta menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan
.
2.) Memberikan cairan adekuat
• Dengan cara memberikan cairan selama masih terjadi konstipasi pada kolon, dengan cairan infus RL, 500 cc.

3.) Observasi TTV
• TD : 110/80 mmHg
• N : 89x / menit
• S : 37 ˚C
• RR : 21x / menit

4.) Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat dan terapi.
• Infus RL, 20 tpm
• Injeksi ketorolac 3 x 30 mg
• Injeksi cefotaxime 3 x 1 ampul
• P/R stolax supp II
• Injeksi nevaldo 3 x 1 ampul.

5.) Memberikan makanan yang tinggi serat
• Dengan cara memberikan makanan yang mnegandung serat tinggi,misalnya buah – buahan, seperti : pepaya, pisang, jeruk, dll. Sayuran, seperti : bayam, kangkung, dll, dan perbanyak minum air putih.

VI. EVALUASI

Tanggal / Jam : 14 – 03 – 2012 / 16.00 WIB
Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

• S : Pasien mengetakan masih belum bisah buang air besar (BAB).
• O :
TD : 110/80 mmHg
N : 87 X / menit
S : 37˚C
RR : 22 X / menit

– K/U cukup
– Pasien masih belum bisa BAB
– Peristaltik masih lemah : 14 x / menit
– Bising usus masih 12 x / menit
– Masih teraba massa pada abdomen
– Nafsu makan pasien masih berkurang
– Pasien masih bedtress.

• A : Masalah belum teratasi.
• P : Intervensi dilanjutkan no: 4 dan 5

– Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat dan terapi :
o Infus RL, 20 tpm
o Injeksi ketorolac, 3 X 30 mg
o Injeksi cefotaxime, 3 x 1 ampul
o Injeksi nevaldo 3 x 1 ampul.
– Memberikan makanan tinggi serat.
o Memberikan porsi makanan yang banyak mengandung serat, yaitu buah – buahan dan lauk yang disertai kuah dan sayuran.

VII. DATA PERKEMBANGAN

 Tanggal / Jam : 14 – 03 – 2012 / 20.30 WIB
Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

 Dx :
Gangguan buang air besar ( BAB / Eliminasi alvi) berhubungan dengan konstipasi pada kolon.
• S : Pasien mengatakan sudah bisa BAB akan tetapi masih belum terlalu besar.

• O :
K/U : Lemah
TD : 110/70 mmHg
N : 92 x / menit
S : 37 ˚C
RR : 22 X / menit

– Pasien sudah bisa BAB.
– Peristaltik sudah mulai meningkat 20 x / menit
– Bising usus sudah mulai normal 22 x / menit
– Nafsu makan pasien sudah mulai bertambah
– Massa pada abdomen sudah mulai berkurang
– Pasien sudah mulai bisa duduk.

• A : Masalah tertasi sebagian
• P : Intervensi dilanjutkan, no: 3 dan 4
– Mengobsevasi TTV.
– Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi.

 Tanggal / Jam : 15 – 03 – 2012 / 09.00 WIB
Nama Pasien : Tn. "S"
Umur : 32 tahun
Ruang : Argopuro (bedah)

 Dx :
Gangguan buang air besar ( BAB / Eliminasi alvi) berhubungan dengan konstipasi pada kolon.

• S : Pasien mengatakan sudah bisa BAB secara rutin dan sudah lancar.
• O :
K/U : Cukup
TD : 120/70 mmHg
N : 95 X / menit
S : 37,5 ˚C
RR : 22 X / menit

– Pasien sudah bisa BAB dengan lancar
– Peristaltik normal 25 x / menit
– Nafsu makan pasien sudah bertambah dan makan tepat waktu
– Bising usus nrmal : 22 x / menit
– Massa abdomen sudah tidak teraba
– Pasien sudah bisa duduk dan tidak bedtress saja.

• A : Masalah tertasi.
• P : Intervensi di hentikan
– Pasien sudah bisa BAB dengan lancar dan sudah merasa nyaman.

 Healty Care

o Anjurkan pasien untuk sering mengkonsumsi buah – buahan
o Anjurkan pasien untuk istirahat cukup
o Anjurkan pasien untuk banyak minum air putih
o Anjurkan pasien untuk teratur menjalankan cek up / kontrol.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s